Logika Musuh, Belajar dari Palestina

  • Bagikan

Abby Martin berkata, “Kita selalu berhenti di titik ketika kekerasan terjadi, tetapi melupakan kisah sebelumnya.”

Inilah kekeliruan berpikir oleh sebagian besar di antara kita melihat kekerasan akibat ulah Zionis Israel di Jalur Gaza Palestina.

Yang terjadi di Palestina hari ini adalah penjajahan yakni kejahatan kemanusiaan. Bukan konflik. Itu karena warga Palestina merasa hak mereka sebagai bangsa merdeka telah dipreteli, dirampas, dan dijajah oleh Israel.

Kutipan itu saya peroleh dalam diskusi soal Palestina melalui zoom, Sabtu malam, (21/10/23), yang disampaikan dua pemateri yakni Ustad Edgar Hamas dan Uttiek Herlambang.

Ustad Edgar malam itu meluruskan tudingan miring atas kekerasan di Palestina sebagai konflik. Selain sebagai juru dakwah, Ustad Edgar adalah seorang Founder Komunitas Sejarah Islam Gen Saladin.

Diskusi ini diikuti lebih 250 peserta. Satu di antara peserta dialog yang dipandu oleh moderator Sigit Sutrisno dari Kota Jogyakarta itu adalah saya. Sebagian ada yang datang dari Mesir, Kairo, Jordania, dan Pakistan.

Banyak pertanyaan diajukan peserta diskusi via online soal kondisi terakhir para pejuang Gaza, berikut soal framing yang telah membentuk opini atas serangan membabi-buta yang dilakukan tentara Zionis Israel, setelah diserang pejuang kemerdekaan Brigade Al-Qasam Hamas menggunakan roket pada 7 Oktober 2023, itu.

Jika Ustad Edgar dikenal sebagai orang yang concern terhadap sejarah Islam, maka Uttiek Herlambang adalah mantan wartawati. Perempuan berjilbab itu adalah seorang petualang yang pernah menginjakkan kaki di tanah Palestina.

Dari kunjungannya ke tanah para nabi itu ia menulis beberapa buah buku soal Palestina satu diantaranya berjudul: Tourney To Baitul Maqdis.

Tudingan teroris terhadap pejuang Hamas saat ini diakui oleh kedua pembicara sebagai bagian dari framing atau pembentukan opini oleh media asing.

Hari ini kita masih menjumpai anggapan miring itu yang secara kasat mata tak mungkin para pejuang Hamas bisa melawan Israel dengan kecanggihan senjata dan teknologi yang dimiliki Israel. Tapi sejarah pejuang Hamas hari ini telah memperlihatkan perlawanan hebat hingga membuat kagum dunia saat melontarkan roket 7 Oktober lalu.

Logika dari kalangan musuh selalu beranggapan pejuang Hamas di Jalur Gaza tak mungkin menang. Tapi hari ini kita juga bisa melihat meski mereka telah diblokade selama 20 tahun namun para pejuang Hamas terus melawan dan sampai saat ini penduduk yang berjumlah 2 juta orang itu tidak berhasil diduduki oleh Israel.

Berdasarkan sumber Biro Pusat Statistik Palestina (2019) sebagaimana dikutip Aljazerah menyebutkan, penduduk wilayah Palestina mencakup Gaza dan Tepi Barat terbagi ke dalam 16 provinsi dan berpenduduk sekitar lima juta warga Palestina. Gaza sendiri berpenduduk 2 juta adapun wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur sebanyak 3 juta.

“Dengan keterbatasan teknologi tapi mereka para pejuang Hamas saat ini bisa mampu mengetahui dan mendeteksi keberadaan jenderal-jenderal Israel,” ujar Ustad Edgar.

Ungkapan yang saya kutip dari seorang aktivis kemanusiaan untuk Palestina Abby Martin dalam diskusi itu mengingatkan kita bahwa dalam melihat sebuah tragedi kekerasan sebagaimana yang terjadi di Palestina kita tidak boleh berhenti hanya melihat peristiwanya saja.

Sebaiknya kita harus menengok kembali sejarah masa lalu. Masa dimana sudah ribuan tahun kota bersejarah tempat berdirinya Masjid Al-Aqsah itu sampai saat ini tidak pernah bisa dikuasai oleh kaum Zionis Israel.

Itulah dalam filsafat sejarah, bila kita tidak mengedepankan logika dalam melihat Palestina hari ini maka bisa saja terjadi apa yang disebut dengan istilah kesesatan logika atau logica fallacy. Kalau kita beranggapan peristiwa di Palestina sebagai konflik maka itulah disebut kesesatan logika.

Akibat pandangan miring oleh para musuh, mereka ini kerab menganggap pejuang Hamas dicap sebagai teroris. Padahal keberadaan para pejuang Hamas itu semata-mata untuk mempertahankan Tanah Air Palestina agar lepas dari tangan penjajah Zionis Israel sejak negara Yahudi itu diproklamirkan sebagai negara oleh Inggris dari tangan Turki Ustmani tahun 1948.

Kemerdekaan mana oleh banyak negara tidak diakui termasuk Indonesia yang saat itu dipimpin Presiden Soekarno. Sikap tegas Soekarno membela kemerdekaan Palestina dan menolak penjajahan Israel bukan hanya retorika tapi nyata. Itu terbaca saat Konferensi Asia Afrika di Bandung (1955) yang diundang justeru tokoh Palestina Mufti Al-Amin Al-Husaini. Padahal saat itu baru 20 persen Israel menjajah tanah Palestina. Bayangkan sekarang malah sudah mencapai 95 persen.

Presiden Soekarno sudah sangat jelas menggariskan sikap bangsa Indonesia ketika menolak Israel sebagai negara penjajah dengan tidak mengundang Israel pada Asian Games di Jakarta (1962).

“Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itu pula bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel,” begitu kata Soekarno.

Kutipan yang disampaikan aktivis kemanusiaan untuk Palestina berkebangsaan barat Abby Martin di awal tulisan ini dalam bahasa Latin disebut: “non causa pro causa” yakni kesalahan dalam menentukan mana sebab, mana akibat.

Kesesatan logika itulah membuat persepsi kita terhadap peristiwa kekerasan di tanah Palestina oleh Zionis Israel hanya berhenti pada akibat bukan pada sebab.

Mengapa Hamas melawan? Dari catatan yang didapat, Hamas melontarkan rudalnya pada Sabtu 7 Oktober 2023 bukan berarti Hamas mencari masalah dengan Israel.

Tapi selama 70 tahun Israel menginvasi Palestina setelah dimerdekakan oleh Inggris dan puncaknya pada perayaan Sukkot di tanggal 29 September s/d 6 Oktober 2023, itu dipicu oleh 420 orang pemukim ilegal Israel memaksa masuk Masjid Al-Aqsah hingga terjadilah bentrokan dengan Murabithin (penjaga Masjid Al-Aqsah) setelah mereka menodai, membunuh wanita serta melarang salat di Kompleks Al-Ibrahimi.

Jauh sebelum itu Israel juga telah melakukan banyak pembunuhan dan upaya Yahudisasi di Tibris, Hebron, Bait Lahm dan sejumlah tempat lainnya.

Daftar pelecehan Masjid Al-Aqsah tercatat sejak 7 Oktober 2023, Israel telah menangkap 930 warga Palestina di Tepi Barat sejak dimulainya operasi Taufan Al-Aqsah.

Sebelumnya, Israel juga tak henti-hentinya melecehkan Masjid Al-Aqsah yang menjadi kiblat pertama umat Islam. Pada Jumat (16/4/2020), misalnya, polisi Israel menggeruduk Masjid Al-Aqsah saat jamaah hendak salat Subuh.

Pada 9 Mei 2021, sebanyak 100 warga Palestina terluka setelah aparat Israel melepaskan tembakan kepada jamaah saat bulan Ramadan.

Berikut 27 September 2021, Yahudi Israel menyerbu Al-Aqsah dan mengibarkan bendera Israel. Pada 3 Nopember 2021 sebanyak 130 Yahudi kembali mendatangi Al-Aqsah dan melakukan ibadah di sana.

Berikut pada 10 Nopember 2021, organisasi Israel, Elad, membangun struktur logam yang menghadap Masjid Al-Aqsah di tanah milik keluarga Palestina, diikuti oleh penembakan gas air mata oleh polisi Israel kemudian oleh jamaah membalasnya dengan batu. Puluhan muslim dilaporkan terluka.

Berikut daftar pelecehan yang dilakukan Israel sejak Mei 2021 sebagaimana dikutip Uttiek Herlambang:

Tanggal 1 Desember 2021, ratusan warga Israel menggeruduk Masjid Al-Aqsah sebagai bagian dari inkursi besar-besaran selama Hari Raya Yahudi, Hanukkah.

Kemudian pada 7 April 2022, kelompok Yahudi menyerukan aksi penggerudukan massal Masjid Al-Aqsah pada pertengahan April selama Hari Paskah Yahudi dan ingin menyembeli hewan di halamannya.

Berikut pada 16 April 2022 polisi Israel menyerang jamaah muslim yang hendak salat Subuh di Masjid Al-Aqsah saat bulan Ramadan.

Maka semua kejahatan itu direspon oleh Hamas dengan melontarkan roketnya ke wilayah Israel demi melindungi kesucian Baitul Maqdis dan mengambil kembali tanah dan hak kemerdekaannya.

Menurut Uttiek Herlambang, sejarah telah mencatat selama 462 tahun sejak Khalifah Umar Bin Khattab menerima kunci gerbang Baitul Maqdis keadaan negara Palestina berada dalam kedamaian untuk seluruh umat beragama hingga kemudian datang Tentara Salib dan mengganggunya pada tahun 1095.

Keadaan itu kemudian diulang oleh Salahuddin Al Ayyubi. Selama 730 tahun lamanya bumi Palestina selalu damai sampai datangnya Jendral Edmund Allenby dari Inggris pada 1017 hingga kekacauan kembali terjadi.

Islam terbukti pernah memberikan solusi dalam permasalahan Baitul Maqdis yakni melalui Umar’s solution dan Salahuddin’ solution.

“Ini menjadi bukti bahwa solusi permasalahan Palestina hari ini adalah kembalikan pada Islam, maka semua akan hidup aman, tenteram dan damai. Sejarah telah membuktikannya,” ujar mantan wartawati, itu.

Masjid Al-Aqsah tempat dimana masjid itu berada di Jerusalem sejak ribuan tahun telah menjadi benteng pertahanan warga Palestina.

Jerusalem sendiri memiliki beberapa nama. “Nama internasional itu Jerusalem. Nama kontemporernya Al-Quds. Nama dalam sejarahnya yakni Baitul Maqdis,” ujar Ustad Edgar.

Mengapa orang-orang Palestina menjadi kuat? “Kami kuat karena Masjid Al-Aqsah. Kami kuat karena Al-Quran. Kalau ditanya mengapa tidak pindah? Kami bisa saja pindah, tapi darah kami lebih berharga di Palestina. Bila ada yang pergi dan tidak ada lagi yang membela Masjid Aqsah maka semua umat Islam ikut berdosa,” ujarnya.

Untuk menghindari kesesatan dari perkara-perkara syubhat dari kesesatan logika dalam memahami kondisi Palestina karena sedikit di antara kita tidak banyak memahami inti problematika yang terjadi di sana.

Boleh jadi tanpa sadar selama ini kita telah terpancing oleh berita-berita hoax yang telah membalik logika kita yang sama sekali tidak berdasar dalam memahami Palestina karena pemahaman kita yang parsial alias setengah-setengah.(*)

  • Bagikan