Al-Hujurat

  • Bagikan

RAKYATMALUKU.FAJAR.CO.ID — AMBON, — Nama surah Al-Hujurat dalam Al-Quran tiba-tiba menjadi pembicaraan di jagat dunia setelah dibacakan oleh Ghanim Al-Muftah (20) pada ajang pembukaan Piala Dunia Qatar 2022.

Pesan-pesan damai yang disampaikan Ghanim itu seolah menenggelamkan lagu resmi Piala Dunia Qatar 2022: Haya Haya.

Meski berkonotasi sama soal perdamaian dunia Better Together — lagu Haya Haya yang dinyanyikan tiga penyanyi top yakni Trinidad Cardona (Amerika), Davido (Afrika) dan Aisha (Timur Tengah) yang dilebur menjadi satu — jauh kalah populer dengan nasihat damai surah Al-Hujurat ayat 13 yang dibacakan Ghanim.

Seperti kita sudah saksikan bersama — meski pembukaan Piala Dunia Qatar telah usai, Minggu, (20/11/22), namun pesan damai yang dikutip Ghanim dari Al-Quran itu seketika menjadi viral ke seantero dunia selama beberapa hari.

Dialog antara Ghanim dengan aktor kelas dunia dan pemenang Oscar Morgan Freeman seolah menyihir para penggemar sepak bola dan mereka yang cinta pada perdamaian.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” (QS. Al-Hujurat Ayat 13).

Kutipan ayat dalam Al-Quran yang dibacakan Ghanim saat berdialog dengan Morgan Freeman di tengah panggung itu tak membuat Ghanim grogi.

Penampilan Ghanim yang disaksikan lebih 60 ribu penonton di Stadion Al Bayt, Al-Khor, justeru membuat Ghanim percaya diri.

Pesan-pesan damai dari Qatar ini seolah memberi catatan kepada dunia tentang pentingnya bagi kita menjaga dan memelihara perdamaian, toleransi dan kebersamaan di antara sesama umat manusia tanpa memandang suku-bangsa.

Ini juga sekaligus mengingatkan pada dunia bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin: rahmat bagi semesta alam. Agama yang cinta damai. Agama yang anti pada kekerasan, perang, teror, dan intimidasi.

Bukan agama para Islamophobia yang mengidentikkan Islam dengan perang, kekerasan, terorisme, intoleran dan antikebhinekaan.

Menyebut nama surah Al-Hujurat ini mengingatkan saya pada sosok pakar tafsir Al-Quran Prof. DR. HM.Umar Shihab, MA.

Guru Besar IAIN Alauddin Makassar yang adalah paman presenter Najwa Shihab itu sehari-hari adalah dosen saya saat masih kuliah dulu dengan spesifikasi mata kuliah Tafsir Al-Quran.

Prof. Umar Shihab termasuk keluarga terpandang di Makassar. Selain dosen di IAIN Alauddin, beliau adalah anggota DPR-RI tahun 1997-1999.

Ia seorang pejuang yang aktif dalam pergerakan Islam melalui Pelajar Islam Indonesia (PII).

Pernah menjabat sebagai ketua HMI, Makassar, Pengurus MUI Sulsel hingga menjabat ketua MUI Pusat. Dari pengalamannya itu membuat Prof Umar Shihab mempunyai kisah hidup dan interaksi sosial yang cukup luas dan beragam.

Prof. Umar Shihab merupakan satu di antara deretan keluarga Shihab yang dikenal sebagai ulama terpandang. Salah satu saudara beliau yang cukup populer adalah Prof DR.Qurais Shihab ayah Najwa Shihab. Mantan Menag RI ini juga adalah pakar Tafsir Al-Quran.

Selain Prof. Qurais Shihab, kita juga mengenal Prof Alwi Shihab ilmuwan yang juga politisi. Prof. Alwi jabatan terakhirnya adalah mantan Menlu RI.

Mereka ini adalah putera terbaik seorang ulama, pemikir, pemimpin, dan pejuang umat di Makassar yakni Prof. DR. H. Abdurrahman Shihab yang juga dikenal sebagai mantan Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Bagi mahasiswa yang hendak menyelesaikan studi sarjana di IAIN Makassar — hukumnya wajib untuk mengikuti mata kuliah yang dipegang Prof Umar Shihab ini.

Surah ke-49 yang berjumlah 18 ayat ini harus dihafal diluar kepala saat menghadapi ujian di hadapan sang professor itu.

Surah Al-Hujurat termasuk salah satu surah dalam Al-Quran yang sering disebut dengan nama surah Madaniyah.

Karena surah ini diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW saat beliau berada di Kota Madinah maka disebut dengan nama Madaniyah.

Dari 18 ayat surah Al-Hujurat tersebut sembilan ayat di antaranya menceritakan tentang pesan-pesan dalam pergaulan.

Pesan-pesan itu antara lain tidak saling mencela, bersikap tabayun (teliti) terhadap setiap informasi, jangan mengolok-olok, damaikan, jangan menggunjing, jangan memata-matai, bersikap adil, jauhi prasangka, jangan memanggil dengan gelar buruk.

Selain menghafal oleh Prof Umar Shihab kita juga diwajibkan mempelajari tafsirnya. Bila Anda lolos di hafalan namun tafsirnya tidak sesuai dengan konteks ayat dan asbabun nuzulnya Anda belum dianggap lulus. Begitupun sebaliknya.

Adapun tafsirnya itu mencakup antara lain asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat Al-Quran), qiraat (bacaan) atau nasikh wal mansukh (ayat-ayat yang menguatkan). Yakni hubungan antara ayat-ayat yang diturunkan sebelumnya dan setelahnya.

Di samping itu terkait dengan kontekstualisasi dari ayat-ayat yang diturunkan. Yakni bagaimana ketika ayat itu diwahyukan sejak dahulu kala lalu dikontekstualisasikan dengan kondisi kekinian.

Jadi, selain memahami dan mempelajari konteksnya mahasiswa juga diwajibkan mengingat. Artinya, ke-18 ayat surah Al-Hujurat itu selain dihafal juga harus dipahami sebab-sebab turunnya, qiraat, juga nasikh wal mansukh.

Ayat ke-13 yang dibacakan Ghanim ini mengingatkan kita bahwa dalam penciptaan manusia berasal dari satu keturunan. Yakni dari nenek moyang yang sama yaitu Adam dan Hawa.

Karena itu dalam kehidupan tidak ada perbedaan berdasarkan kasta dan suku bangsa. Semua umat manusia akan sama dan setara di sisi Tuhan.

Melalui ayat ini kita diingatkan untuk tidak saling mencela, selalu bersikap tabayun (teliti), tidak mengolok-olok satu dengan yang lain.

Selalu mengedepankan perdamaian, tidak menggunjing antarsesama. Juga tidak memata-matai, selalu bersikap adil, jauhi prasangka, dan jangan memanggil dengan gelar buruk.

Ghanim seperti kita tahu lahir dengan kondisi langka yang dikenal dengan istilah Caudal Regression Syndrome (CRS). Itu adalah kelainan pada tubuh yang mengganggu perkembangan tulang belakang bagian bawah.

Seperti dilaporkan, pemuda kelahiran 5 Mei 2002 ini setiap tahun mendapatkan perawatan dari ahli bedah di Eropa. Untuk beraktivitas sehari-hari ia biasanya menggunakan bantuan kursi roda. Namun, di beberapa situasi ia bisa beraktivitas tanpa bantuan kursi roda.

“Kondisi fisiknya bukan menjadi penghambat untuk ia hidup. Terbukti Ghanim bisa melakukan olahraga ekstrem seperti selam skuba, panjat tebing, dan skateboard,” begitu yang ditulis di laman online.

Meski di tengah keterbatasan secara fisik, namun dengan pesan-pesan damai itu ia mampu mengalihkan perhatian dunia tentang pentingnya kesetaraan.

Saat dimintai keterangan oleh wartawan atas kutipan surah Al-Hujurat itu Ghanim bergeming.

Dalam kapasitasnya sebagai Duta Piala Dunia Qatar 2022 — ia hanya ingin mengirimkan sebuah pesan atau harapan kepada dunia tentang pentingnya perdamaian. Tentang inklusivitas dan persatuan untuk kemanusiaan.

Pesan damai melalui surah Al-Hujurat dari Qatar yang disampaikan Ghanim ini mengingatkan pada dunia tentang indahnya wajah Islam baik melalui sambutan yang ramah, kumandang adzan yang direlay ke dalam stadion — hingga pengakuan itu justeru muncul sendiri dari para pesohor dunia termasuk oleh mereka yang selama ini mengidentikkan Islam dengan perang, intoleran dan antikebhinekaan.

Semoga petuah damai dari ajang Piala Dunia Qatar 2022 ini menjadi spirit bagi kita semua untuk mengedepankan nilai-nilai kemanusian guna mengakhiri konflik dan pertikaian.

Juga sekaligus menandai –apa yang disebut oleh Islamolog Samuel Huntington dalam tesisnya– berakhirnya benturan kebudayaan dan ketimpangan ekonomi, politik, dan keadilan antara Timur dan Barat.(DIB)

  • Bagikan

Exit mobile version