Kabar kepergian wartawan senior Fikri Jufri (89) menyisakan kesan siapa sosok sesungguhnya sang pendiri Majalah Berita Mingguan (MBM) TEMPO itu.
Untuk mereka yang pernah bersentuhan dengannya pasti merasakan ada suasana beda penuh kehangatan, kocak, dan persahabatan.
Kesan itu pernah saya rasakan saat ia mengaku jika dirinya tetap sebagai orang “GOLKAR” di tengah begitu banyak para bos media Tanah Air telah memilih menjadi pimpinan partai politik.
Almarhum bernama lengkap Fikri Bin Hasan Al-Jufri yang menghadap Sang Khalik di Jakarta, Kamis, 6 Maret 2025, itu semasa hidup ternyata punya kenangan tersendiri.
Ketika itu kali pertama saat saya mewakili Pemred Koran Ambon Ekspres bertemu dengannya pada Puncak Pertemuan Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) se-Indonesia di Bali, Juni, 2013.
Meski namanya sudah akrab di telinga sejak mahasiswa dan menjadi pelanggan tetap TEMPO barulah hari itu saya bisa berjumpa. Tentu ada rasa bangga bisa bertemu almarhum bersama ratusan pemimpin redaksi se-Tanah Air.
Di antara deretan nama-nama wartawan senior TEMPO selain Goenawan Mohamad (GM), Zaim Ukhrowi, Thoriq Hadad, nama Pak Fikri termasuk satu di antara deretan nama-nama orang TEMPO yang akrab di telinga saya. Menyebut nama-nama ini tentu identik dengan TEMPO. Kecuali GM sempat beberapa kali bertemu, tapi dengan almarhum Pak Fikri baru sekali itu.
Dalam autobiografi singkat yang ditulis wartawan Hamid Basyaid yang beredar itu diceritakan bahwa siapapun yang pernah bersentuhan dengan almarhum Fikri Jufri pasti ikut merasakan rasa kekocakan dan kehangatan penuh persahabatan nan menyenangkan.
Dan, pengalaman penuh hangat dan kocak itu pernah saya rasakan di Bali ketika bersama almarhum berpapasan usai mengikuti sesi diskusi pada Forum Pemred hari itu. Saat melintasi pintu hotel saya pun mendekati dan menyapa sembari memperkenalkan diri saat ia duduk di kursi.
Ketika itulah saya melihat almarhum sebagai sosok wartawan yang tampil apa adanya. Padahal, sebagai pendiri majalah ternama di Tanah Air almarhum termasuk petinggi media yang punya begitu banyak pengaruh.
Setelah memperkanalkan diri, saya pun berkelakar mengajukan pertanyaan mengapa ia tidak memilih mengikuti jejak teman yang lain untuk mendirikan partai atau menjadi bagian dari rezim.
Forum Pemred adalah kumpulan ratusan pemimpin redaksi se-Indonesia yang hari itu hadir di Bali juga dihadiri para pengusaha dan bos media yang juga adalah pendiri partai.
Selain Fikri Jufri, hadir Chairul Tanjung, James Riady, Hary Tanoe, Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, dll.
Ini untuk kali pertama puncak pertemuan Forum Pemred se-Indonesia diadakan yang dipimpin Ketua Steering Committee Tommy Suryopratomo, mantan Pemred Kompas. Selain menghadirkan para Pemred juga para elite kekuasaan dan pengusaha ternama.
Penampilannya yang sederhana membuat sosok Pak Fikri seolah bukan sebagai seorang bos. Gaya bicara dan gesturnya tidak menampakkan sebagai elite media. Tidak membedakan antara senioritas.
Jika banyak pimpinan media telah memilih menjadi pemimpin partai, pendiri Majalah TEMPO ini, mengaku tetap memilih sebagai seorang “GOLKAR”.
“Biarlah mereka menjadi pimpinan partai. Saya tetap berada di barisan orang-orang GOLKAR,” kata pria kelahiran Jakarta 25 Maret 1936, itu.
Apa yang dimaksud dengan orang “GOLKAR”?
“GOLKAR di sini adalah Golongan Keluarga Arab. Alias GOLKAR,” ujar almarhum kepada saya tertawa sembari meninggalkan ruang pertemuan itu.
Hamid Basyaib benar. Almarhum merupakan sosok yang penuh kesan. Kisah Hamid Basyaib yang menceritakan pengalamannya di bawah ini juga menunjukkan siapa Pak Fikri Jufri.
Dikisahkan, menjelang pemilu legislatif 2004, ia pernah meminta Hamid Basyaib yang saat itu sebagai konsultan politik datang ke rumahnya.
Saat itu Pak Fikri ingin membahas strategi kampanye untuk pencalonannya dari Partai Indonesia Baru (PIB) bersama sahabatnya Sabam Siagian (mantan Pemred The Jakarta Post) dan mantan Dubes RI untuk Australia.
Di tengah obrolan saat mengontak Sabam Siagian terdengar suara keras Pak Jufri dari balik telepon. “Ada-ada aja si Sabam,” katanya, setelah kembali ke meja obrolan.
“Kok mau minta sumbangan buat beli 40 ekor babi untuk kampanye dia di Papua. Gua bilang, “Bam, gua ini gini-gini juga Al Jufri, bukan Al Capone! Kalo lu minta beliin sapi, gua beliin! Kalo minta babi sih, entar dulu, deh!”
Frase itu menegaskan nama marganya (dan dengan demikian ke-Islamannya) yang ia kontraskan dengan raja gangster Italia-Amerika di tahun 1930-an yang juga bernama depan “Al”, digemakannya lagi di sebuah ruang sidang DPR, membuat seluruh ruangan bergemuruh oleh tawa semua orang.
Jauh kemudian, kata Hamid Basyaib, ketika ia mengunjungi Sabam di ranjang kematiannya, sahabatnya itu memegang lengan Fikri, dan berkata lirih: “Fik, terima kasih untuk persahabatan selama 55 tahun…”
***
Saya tentu bangga mengikuti Forum Pemred hingga membawa saya bisa bertemu para jurnalis hebat termasuk sosok wartawan bersahaja bernama Fikri Jufri itu.
Untuk diketahui, Puncak Pertemuan Forum Pemred di Bali yang diketuai Pemred TEMPO Wahyu Muryadi, (13-14/6/13), ini menghasilkan deklarasi yang tertuang dalam Komitmen Nusa Dua.
Komitmen yang memuat sembilan poin tekad insan pers tersebut merupakan bentuk komitmen insan pers melakukan lompatan ke depan untuk ikut mendorong segera terwujudnya Indonesia baru yang adil, lebih perkasa, dan sejahtera sesuai amanat konstitusi.
Dalam pembacaan Komitmen Nusa Dua oleh Ketua Steering Committe Pertemuan Forum Pemred Tommy Suryopratomo itu disebutkan bahwa insan pers sepakat kebebasan pers bukanlah tujuan tapi alat untuk menyejahterakan rakyat.
Insan pers juga sepakat bahwa kebebasan pers adalah untuk melakukan kontrol terhadap penyelenggaraan negara, pemerintahan, dunia usaha, dan semua lembaga yang ada agar tercapai tata kelola yang bersih dan berwibawa.
Forum Pemred ini juga bersepakat untuk menggunakan kebebasan pers secara profesional dan menjalankannya dengan berpedoman kepada kode etik jurnalistik.
Untuk bidang ekonomi, keuangan, dan industri, disepakati untuk dikawal secara konsisten dan mendorong segera terwujudnya sistem yang berkeadilan, mendukung usaha nasional, menjaga kepentingan bangsa dan negara, meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta meningkatkan martabat bangsa.
Di bidang ketahanan pangan, insan pers sepakat secara konsisten mengawal dan mendorong segera terwujudnya program-program yang dapat menjamin tersedianya semua kebutuhan pangan dan air bersih secara berkelanjutan bagi masyarakat, serta meningkatnya kesejahteraan para petani, peternak, dan nelayan.
Untuk media insan pers sepakat secara konsisten mengawal dan mendorong terwujudnya konvergensi media yang dapat membawa manfaat sebesar-besarnya bagi pencerahan masyarakat dan adanya sistem yang adil, transparan, dan proporsional bagi para pelakunya di era globalisasi.
Selamat jalan Pak Fikri.(*)