Berita Utama

Perdagangan Orang, Pramuria Di Bula Dituntut 5 Tahun Penjara

RakyatMaluku – PRAMURIA Karaoke 77 Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Herika Rahmadiah Abu Turasa alias Ika (20), dituntut lima tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku. Sebab, perbuatan ter­dakwa Ika terbukti bersalah melakukan tindak pidana Perdagangan Orang.

Selain dituntut hukuman pidana penjara, terdakwa Ika juga dituntut membayar denda Rp 120 juta subsider satu bulan kurungan, serta wajib membayar restitusi kepada saksi korban sebesar Rp 11.520.000 subsider enam bulan kurungan untuk kerugian yang dialami saksi korban selama saksi korban bekerja di Karaoke 77 Bula.

“Menyatakan, perbuatan terdakwa Herika Rahmadiah Abu Turasa alias Ika terbukti bersalah melanggar Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang,” ucap JPU Ester Wattimury, saat membacakan amar tuntutannya di Pengadilan Negeri (PN) Ambon, Rabu, 11 April 2018.

JPU dalam dakwaanya menjelaskan, pada pertengahan 2017 lalu saksi korban bertanya kepada terdakwa melalui pesan singkat (SMS) tentang pekerjaan. Terdakwa yang saat itu sudah bekerja sebagai Pramuria Karaoke 77 Bula langsung membalas SMS saksi korban bahwa ada pekerjaan di butik dan di kafe. Saksi korban kemudian menanyakan berapa besar gaji untuk kerja di butik dan di kafe. Tergiur dengan gaji besar yang dijanjikan terdakwa, saksi korban pun akhirnya bersedia meninggalkan Kota Makassar dan dijemput terdakwa menggunakan Pesawat Batik Air untuk bekerja di Kafe 77.

Setibanya di Bandara Pattimura Ambon, terdakwa dan saksi korban langsung dijemput orang suruhan Bos Kafe 77 untuk selanjutnya dibawa ke Kota Bula. Setibanya di Kafe 77, saksi korban kemudian dikasih pinjaman uang oleh Arman sebesar Rp 500 ribu untuk membeli perlengkapan mandi.

Di Kafe 77 itu, saksi korban yang masih dibawah umur itu bekerja menuangkan minuman, dan tidur bersama pramuria lainnya. Gaji yang diterima saksi korban di Kafe 77 itu ternyata berasal dari premi per botol yakni Rp 17.000 dari harga satu botolnya Rp 80 ribu. Selama berada di Kafe 77, saksi korban disuruh membayar uang genset dan TV sebesar Rp 50 per bulan. Saksi korban yang saat itu ditelpon kakaknya untuk pulang ke Makassar lantaran bapaknya sakit, terpaksa menunda karena terkendala hutang di tempat kerjanya itu.

Hutang itu diantaranya, uang tiket Makassar – Ambon, uang transportasi Ambon – Bula, uang tempat tinggal di penginapan dengan total keseluruhan hutang sebesar Rp 2.600.000. Padahal, saksi korban mengetahui bahwa seluruh transportasi gratis alias ditanggung Bos Kafe 77. Akibatnya, gaji saksi korban yang berasal dari premi botol minuman itu terpaksa dipotong untuk melunasi hutang hingga tersisa saat ini sebesar Rp 300 ribu.

Usai mendengar pembacaan tuntutan, majelis hakim yang diketuai S. Pujiono kemudian menunda persidangan hingga Rabu pekan depan, dengan agenda sidang Pleidoi (Pembelaan) oleh Penasehat Hukum terdakwa, Abdusyukur Kaliky. (RIO)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

To Top