Berita Utama

Motor Tanker Milik Perusahaan Surabaya Berhasil Dievakuasi

KAPTEN Kapal Negara (KN) Kalawai P117, Edmon Meturan, berhasil meng­e­vakuasi Motor Tanker (MT) Hafidyah beserta 15 anak buah kapal (ABK) dari Pulau Damar, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Senin, 19 Maret 1018 dan tiba di Kota Ambon pada Rabu, 21 Maret 2018, sekitar pukul 01.00 Wit.

Menurut Edmon, kapal tanker milik salah satu perusahaan di Surabaya itu diketahui mesinnya rusak saat berlabuh dari Kota Dobo Kabupaten Kepulauan Aru dengan tujuan Kota Surabaya.

“Tadi malam, kami berhasil me­narik MT Hafidyah yang membawa 15 kru dari perairan MBD ke Kota Ambon dengan keadaan selamat. Dan saat ini, seluruh dokumen MT Hafidyah sudah diserahkan ke Kantor Shabandar Ambon untuk diperiksa ijin berlayar dan mengurus ijin berlabuh di perairan teluk Ambon,” ucapnya, dalam jumpa pers, di Ambon.

Ia menjelaskan, pada 18 Maret 2018 dirinya mendapatkan informasi dari Kepala Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Tual, bahwa ada salah satu kapal tanker dalam keadaan rusak dengan membawa 15 ABK, dan kehabisan makanan selama delapan hari di perairan MBD, sejak 11 Maret 2018.

Dari informasi tersebut, sekitar pukul 12.00 Wit dirinya membawa KN Kalawai P117 langsung menuju Pulau Damar untuk menyelamatkan MT Hafidyah, dan tiba pada 19 Maret 2018, pukul 14.00 Wit.

“Setelah kami sandar tepat disamping MT Hafidyah, saya langsung menemui pak Junaidi selaku kapten MT Hafidyah. Dan melihat kondisi cuaca laut, maka saya putuskan untuk menarik MT Hafidyah ke Kota Ambon saja,” jelas Edmon.

Kepada Edmon, Kapten MT Hafidyah, Junaidi, bercerita bahwa mereka berangkat dari Dobo pada 6 Maret 2018 hendak menuju Surabaya dengan rute, Dobo, Damar, Romang, Wonreli, Kalabay, Kupang, Denpasar dan masuk Surabaya.

Namun, ditengah perjalanan tepat di Pulau Damar pada 11 Maret 2018, mesin motor bantu dan mesin motor induk MT Hafidyah tiba-tiba mati. Sehingga, mereka melepas jangkar dan mencoba memperbaiki mesin kapal. Sayangnya, mesin kapal tidak dapat dihidupkan hingga bantuan datang.

“Jadi selama delapan hari mesin kapal mereka rusak, mereka bertahan hidup dengan memakan pisang yang masih mentah. Itupun mereka beli dari nelayan yang kebetulan lewat,” ungkap Edmon. (RIO)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

To Top