Berita Utama

Miliki Senpi, Warga Hila Ditangkap

Rakyat Maluku – LA TANDA alias LT, warga Dusun Waitomo, Desa Hila, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, dibekuk tim Direktorat Reserse Kri­minal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Maluku. Dibekuknya pria 39 tahun ini karena memiliki dua senjata api (senpi) laras panjang rakitan. Selain senpi, polisi turut mengamankan dua magazen standar, dan 9 butir amunisi.

Pelaku diringkus di rumahnya pada, Kamis, 19 April 2018 lalu, pu­kul 17.30 WIT. Ia kini sudah men­dekam di rumah tahanan Polda Maluku, Tantui, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. La Tanda disangkakan dengan Undang_undang Nomor 12 Tahun 1951.

Direktur Reserse Kriminal Khu­sus Kombes Pol Firman Naing­golan mengatakan, terungkapnya ka­sus kepemilikan senpi ketika tim yang bermarkas di Mangga Dua, Kecamatan Nusaniwe, sedang men­yelidiki peredaran Batu Cinnabar di Leihitu. Saat menyelidiki bahan utama mercuri, pihaknya mendapat kabar dari masyarakat kalau ada yang memiliki senpi laras panjang.

“Mendapat info itu, saya lalu perintahkan tim untuk fokus terhadap laporan warga,” kata Firman Nainggolan kepada wartawan ketika menggelar kon­frensi pers di Polda Maluku.

Nainggolan saat berita ini disampaikan, ia di dampingi Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Muhamad Roem Ohoirat, Senin, 23 April 2018.

Usai menerima arahan Dirreskrimsus, tim kemudian menelusuri laporan warga, dan akhirnya mengarah ke pelaku. Waktu diinterogasi, La Tanda mengaku kalau dia menyimpan senpi di dalam kamar tidurnya.

“Mendapat laporan tersebut anggota kami lang­sung mengobrak abrik kamar dan menemukan 1 pucuk senpi di bawah kasur tempat tidur LT. Senpi itu lengkap dengan magazen. Magazen terdapat 9 butir a­munisi. Amunisi ini sudah kami lepas dari magazen untuk penyelidikan,” ungkap Naingolan.

Meskipun telah mendapatkan senpi, polisi ti­dak langsung berhenti. Mereka terus menanyakan pelaku atas kepemilikan benda berbahaya itu. Pelaku mengatakan bahwa ada 1 lagi senpi yang disimpan di tempat tinggal orang tuanya. Rumah La Tanda tak jauh dari orangtuanya.

“Mendengar pengakuan pelaku, tim bersama LT menuju rumah orang tuanya. Senpi itu disimpan dibawa kasur, tempat tidur orang tuanya. Ada maga­sennya juga tapi tidak ada amunisi,” jelasnya.

Setelah menemukan dua pucuk senpi berwarna hitam itu, La Tanda digelandang menuju markas Ditreskrimsus di Kawasan Mangga Dua Ambon.

Hasil pemeriksaan, La Tanda mengaku memiliki dua pucuk senpi sejak konflik horizontal melanda sebagian besar wilayah di Provinsi Maluku, khususnya Pulau Ambon, tahun 1999 silam.

“Pelaku mengaku jika senpi merupakan buatannya sendiri. Ia membuatnya pada tahun 1999. Ia juga mengaku jika sebenarnya ada 12 butir amunisi. Tapi tiga sudah dipakai. Nah kita masih terus melakukan penyelidikan,” tambahnya. Terkait dengan buatan senpi itu, penyidik Ditres­krimsus masih terus mengembangkan kebenaran dari pengakuan La Tanda.

“Kita selidiki terus. Apa benar pelaku bisa mem­buat senjata. Dan pelurunya didapat dari mana. Nanti kita bawa ke laboratorium forensik. LT telah ditetapkan sebagai tersangka. Ia dijerat dengan Undang Undang Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951 Pasal 1 Ayat (1),” tutup Firman Nainggolan. (AAN)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

To Top