Ambonesia

Mahasiswa Di Ambon Tolak Kabar Hoax

Rakat Maluku – RATUSAN mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Ambon, menyatakan sikap tegas untuk menolak semua informasi yang berbaur tidak benar alias hoax.

Penolakan terhadap informasi hoax yang kerap disampaikan oleh orang-orang, yang tidak bertanggungjawab ini, disampaikan pada acara program Tempo Goes To Campus, yang digelar di Aula Rektorat Universitas Pattimura, Kota Ambon, Jumat, 27 April 2018.

Program Tempo Goes To Campus sendiri menggunakan tagar #MelawanKabarKibul. Lewat kegiatan ini, para mahasiswa diberikan penguatan bagaimana menangkal isu-isu hoax yang disampaikan lewat media sosial. “Mahasiswa belajar bagaimana cara menangkal hoax dari sisi jurnalistik, internet sehat, dan bagaimana menggunakan tools cek dan fakta.” Demikian disampaikan Ketua Panitia Tempo Goes To Campus, Sherlina Eoudia, di acara tersebut.

Sherlina menjelaskan, acara Tempo Goes To Campus diadakan oleh Tempo Institute, yang bernaung di bawah Tempo Media Group. Karena itu, kata dia, Tempo Goes To Campus ini adalah cara Tempo membuka rahasia dapurnya kepada mahasiswa di sebelas kota di Indonesia, yakni Cilegon, Manado, Palu, Halmahera, Ambon, Bandung, Aceh, Batam, Pontianak, Makassar, dan Cimahi.

Selain mendapatkan cara menangkal hoax dari sisi jurnalistik, para mahasiswa ini juga mendapatkan pemahaman bagaimana internet sehat oleh Siberkreasi Kominfo, serta bagaimana menggunakan aplikasi cek dan fakta oleh Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). “Pengaplikasian riil dari acara ini adanya literasi digital di sebelas kota atau kami sebut dengan Duta Anti Hoax yang akan melakukan program lawan kabar kibul dan diakhiri dengan mempresentasikan hasil kerjanya bersama tim pada rangkaian Tempo Media Week 2018 di Jakarta,” ujar Sherlina.

Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, meminta mahasiswa menjadi pilar utama dalam melawan kabar kibul. “Lewat acara Tempo Goes To Campus, saya berharap mahasiswa menjadi promotor bagi para pelajar, generasi muda bangsa untuk memahami informasi secara baik dan benar sebelum diteruskan kepada pihak lain, serta mampu mengendalikan diri untuk tidak menyatakan ujaran kebencian, berita kibul atau hoax baik secara lisan ataupun lewat media sosial,” kata dia, saat membuka acara Tempo Goes To Campus.

Bagi Richard, 19 tahun lalu, Kota Ambon mengalami konflik sosial yang menyedihkan. Saat itu, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan aparat keamanan tak ada. Akar persoalan yang memicu konflik itu hingga saat ini sulit ditelusuri. “Ibarat benang kusut, sulit sekali dikendalikan karena peran provokator dengan berbagai isu yang provokatif,” ujarnya. “Setelah konflik berlalu, kita baru menyadari bahwa hoaxlah yang telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan masyarakat.” Karena itu, kata Richard, pemerintah Kota Ambon melihat kegiatan Tempo Goes To Campus adalah salah satu program penting untuk memberikan pencerahan kepada generasi muda bangsa agar dapat memposisikan diri dan mampu membedakan manakah fakta dan mana berita kibul. “Rata-rata kabar kibul atau hoax justru lebih banyak disebarkan oleh kalangan berpendidikan karena merekalah yang menguasai teknologi dan lebih cepat mengakses sumber-sumber informasi,” sebut dia.

Semuel Toding dari Siberkreasi Ambon dan Paparisa Ambon Bergerak mengatakan literasi digital adalah salah satu kegiatan untuk meminimalisasi berita-berita hoax yang marak terjadi di media sosial terutama di Kota Ambon. “Di Ambon Bergerak, kami juga membuat grup khusus bernama Filter Informasi di Facebook yang bertugas mengklarifikasi informasi yang berkaitan dengan isu SARA dan beredar di masyarakat,” kata Semuel.
Direktur Tempo Institute, Mardiyah Chamim mengatakan, revolusi digital memiliki wajah buruk. Tak sedikit informasi palsu maupun ujaran kebencian menyebar di berbagai platform media sosial. Laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebutkan, pada tahun lalu, ada sekitar 800 ribu situs penyebar berita palsu dan ujaran kebencian. “Kegiatan ini diadakan agar mahasiswa terlatih menulis kreatif berdasarkan fakta dan cerdas bermedia sosial,” kata Mardiyah. Ia menuturkan, Tempo Goes To Campus ini dirancang agar mahasiswa memahami kerja-kerja jurnalistik yang berkualitas dan bersama-sama melawan kabar kibul. “Masyarakat dituntut untuk cerdas bermedia sosial, termasuk bagaimana menyaring berita sesuai fakta.”

Dalam acara ini, para jurnalis Tempo akan memaparkan cara kerja mereka dan membongkar rahasia dapur mereka. Mahasiswa akan memahami bagaimana Tempo mengumpulkan hasil pembuktiannya di lapangan dan menyatukan mozaik liputan menjadi sebuah cerita yang runut dan mudah dipahami masyarakat. “Output dari acara ini, kami berharap bisa memotivasi mahasiswa untuk membaca dan menulis , dapat membuat konten tulisan yang informatif dan akurat, ikut berperan dalam mewujudkan masyarakat cerdas melek berita hoax agar dapat terhindar dari kabar kibul, dan peduli pada isu yang terjadi di sekitar maupun global,” kata Mardiyah. Acara Tempo Goes To Campus di Ambon ini tak lepas dari dukungan pemerintah Kota Ambon, Kampus Universitas Pattimura, Wanita Penulis Indonesia (WPI), dan Paparisa Ambon Bergerak. (WHL)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

To Top