Ayu Hasanusi: OSO Bukan Pimpinan Saya – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Ayu Hasanusi: OSO Bukan Pimpinan Saya

Ayu Hasanusi
  • Talaohu: Tidak Ada Ruang Komunikasi Bagi Ayu Hasanusi Di Hanura

KISRUH internal yang terjadi di tubuh Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) berbuntut panjang dengan pemecatan puluhanketua DPD Hanura di seluruh Indonesia oleh Ketua Umum Hanura Dr. Oesman Sapta dan Sekretaris Jenderal H.Herry Lontung Siregar yang ditetapkan di Jakarta tanggal 21 Januari 2018.

Salah satu Ketua DPD Hanura yang dipecat adalah Ayu Hasanusi, selalu Ketua DPD Hanura Maluku melalui Surat bernomor SKEP/375/DPP-Hanura/1/2018 seka­ligus secara resmi menunjuk Wakil Sekjen Bina Wilayah Maluku Maluku Utara, Abdul Wahab Talaohu, sebagai Pelaksana Tugas DPD Hanura Maluku.

Ayu Hasanusi diberhentikan, DPD Hanura Maluku yang dipimpin Ayu dianggap ikut bersama sejumlah DPD Hanura Maluku lainnya yang meneken mosi tidak percaya terhadap Ketua DPP Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO).

Menyikapi hal tersebut, Ayu Hasanusi menga­takan disemua organisasi tentu mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), begitu juga dengan Partai Hanura yang menjadi landasan atau rujukan dalam pengambilan keputusan.

“Kita telah memenuhi quorum dalam pelak­sanaan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Mu­naslub) di Jakarta pada tanggal 18 Januari 2018. Dan dalam Munaslub tersebut diputuskan untuk memberhentikan pak OSO dari Ketua DPP Hanura. Jadi, kalau sekarang pak OSO mau memberhentikan saya itu sudah terlambat. Karena dia tidak berhak memberhentikan saya,” ujar Ayu.

Dikatakannya, OSO tidak berhak memberhen­tikan dirinya sebagai ketua DPD Hanura Maluku. Sebab, dirinya mengaku OSO bukan pimpinannya di Partai Hanura. Ayu mengakui pimpinan partainya adalah Daryatmo dengan pembinanya adalah Wiranto.

Menurut Ayu, Pak OSi adalah ketua DPP Hanura yang telah dipecat melalui forum pengambilan keputusan tertinggi yaitu Munaslub, dimana Munaslub itu dihadiri dan didukung oleh sebagian besar DPD se-Indonesia. Sehingga Oso tidak berhak memecat dirinya.

“Pimpinan saya adalah Jenderal Daryatmo dan pembina saya adalah pak Wiranto. Sementara pak OSO adalah ketua yang telah dipecat oleh qourum Hanura. Dualisme di DPP tentu berimbas ke Daerah, namun dari 11 DPC Hanura se-Maluku, 10 diantaranya itu loyal mendukung saya dan tetap dibawah pimpinan Daryatmo. Sementara 1 DPC hanya mendukung pak OSO,” terangnya.

Dikatakannya, pihaknya sementara me­nunggu SK dari Kemkum HAM atas kepe­ngurusan DPP Hanura kubu Daryatmo. Soal Musdalub yang akan dilaksanakan oleh Wahab Talaohu itu, Ayu mengaku tidak peduli terhadapnya, karena bukan 1 kubu dengan pihaknya di DPP. “Silahkan buat Musdalub, saya tidak ada urusan dengan Musdalub itu, karena kita tidak ada pada satu kubu kepemimpinan,” pungkasnya.

Kalau dilaksanakan Musdalub, kata Ayu, tentu yang akan menjadi peserta itu hanya satu DPC, yakni Maluku Tenggara. Karena hanya DPC Malra yang berada di pihak di kubu pak OSO.

“Saya hanya bertanggungjawab untuk me­ngamankan 10 DPC yang loyal terhadap Munaslub dan keputusannya dan ada dalam satu barisan dengan kita. Saya diangkat dalam forum Musda, dan saya juga diberhentikan dalam forum yang sama atau juga Musdalub jika saya melanggar AD/ART organisasi,” tegasnya.

Mengenai apakah surat pemberhentian terse­but telah diperolehnya, kata Ayu, hingga ke­marin dirinya belum menerima surat pember­hen­tian tersebut.

“Tapi saya mau tegaskan, OSO bukan pimpinan saya. Jadi bukan pimpinan kemudian memecat itukan lucu,” tegas Ayu.

TAK ADA RUANG UNTUK AYU
Keputusan Osman Sapta Odang (OSO) men­copot R. Ayu Hasanussi dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hanura Provinsi Maluku adalah pilihan yang sulit.

Sebab Ayu Hasanussi cukup berjasa bagi pengembangan partai Hanura di Provinsi Maluku, tapi keberpihakannya untuk melawan OSO selaku Ketua Umum DPP Hanura dengan cara ikut serta dalam menggiring para kader Hanura ditingkat 11 Dewan Pengurus Cabang (DPC) Hanura Maluku adalah kekeliruan besar yang sulit dimaafkan DPP pimpinan OSO.

Plt DPD Hanura Provinsi Maluku Wahab Talaohu mengaku, Hasanussi bukan sekedar pelengkap aksi mosi tidak percaya terhadap OSO tapi salah satu aktor destroyer gerakan mosi tidak percaya bagi OSO.

Ayu Hasanussi terlibat sejak awal hingga ke­putusan mosi tidak percaya diedarkan ke publik. Hal itulah membuat ruang komunikasi dengan Hasanussi, sudah sulit dibuka. Apalagi pimpin kembali DPD Hanura Provinsi Maluku.

Pilihan untuk melakukan mosi tidak percaya juga berkaitan dengan pilihan ideologi bukan sekedar sisi pragmatis politik.

“Ini bukan tentang politik pragmatis saja. Tapi tentang pilihan idiologis, beliau sudah berpihak ke sebelah, maka tak ada ruang (komunikasi) lagi,” kata Wahab kepada Rakyat Maluku saat dihubungi kemarin.

Hanya saja Wahab enggan mengomentari langkah selanjutnya yang akan diambil oleh DPP untuk kader-kader Hanura yang ikut menggalang mosi tidak percaya kepada OSO.

Mantan aktivis 98 itu beralasan, urusan penertiban dan juga pemberian sanksi bagi kader-kader yang melawan partai adalah urusan DPP. Sebagai Plt, dia hanya akan fokus untuk agenda Musyawarah Luar Biasa (Munaslub) DPD Hanura Maluku.

“Perintah Ketua Umum adalah segera menggelar Musdalub, dan merangkul kembali DPC-DPC, pendekatan kami adalah pendekatan persuasif, kami optimis teman-teman di ditingkat DPC masih rasional dan akan kembali ke jalan yang benar,” tandas Wahab. (R1/ARI)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

--- CONTOH IKLAN
To Top