Ini Respons Bito Temmar Atas Pemecatan Dirinya – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Ini Respons Bito Temmar Atas Pemecatan Dirinya

Bitzael S. Temmar

“Saya Berdiri Setegak-Tegaknya Menerima Penghinaan Ini”

Nyaris tidak terlihat atau terkesan tanda-tanda amarah, dendam, atau semacamnya ketika wartawan harian kami mengajak wawancara Drs. Bitzael Salfester Temmar mengenai keputusan pemecetan dirinya dari keanggotaan PDI Perjuangan. Apa saja yang dikatakannya?

Laporan : Herry Purwanto
RAKYAT MALUKU

DENGAN gaya yang khas dan santai, mantan – Ketua Fraksi PDI Perjuangan, Ketua Komisi A, Ketua Panitia Musyawarah DPRD periode 1999 – 2004 dan 2004 – 2009 sekaligus Bupati MTB periode 2007 – 2012 dan 2012 – 2017 – meladeni setiap pertanyaan yang diajukan.

“Ketika mendengar keputusan pemecatan ini dengan tersenyum saya berkata begini kepada diri saya : dihadapan konstitusi partai saya berdiri setegak-tegaknya menerima penghinaan ini”, ujar Bito Temmar saat ditanya mengenai kemungkinan terbeban dengan keputusan pemecatan dirinya. Berikut petikan wawancara wartawan dengan yang bersangkutan.

Anda telah diberhentikan sebagai anggota PDI Perjuangan. Sikap Anda?
– Sudah saya sampaikan sikap resmi kepada Sekjen, Hasto Kristianto, setelah beberapa saat mendengar keputusan tersebut. Melalui WA saya bilang begini “Sedikit pun tidak marah. Sebagai orang yang mengalami PDI hingga PDI Perjuangan hanya bisa mengelus dada.

Kok bisa…?. Mengapa Anda bersikap seperti itu?
– Yang pertama, alasan pemecatan direduksi sedemikian rupa tanpa meletakkan saya dalam perspektif objektivikasi sejarah panjang perjalanan partai ini di Maluku. Harusnya kudu mengambil tindakan itu karena bukan saja telah mendedikasikan diri dalam kurun waktu yang sangat panjang tanpa cacat cela apa pun, tetapi juga karena kesalahan yang dituduhkan kepada saya sesungguhnya bukan kesalahan. Kedua, pilihan sikap saya yang oleh mereka dianggap sebagai pembangkangan, sesungguhnya merupakan reaksi etis kekaderan saya atas situasi internal partai di Maluku yang sudah masuk kategori amat buruk.

Menarik soal statement bahwa “kesalahan yang dituduhkan kepada Anda sesungguhnya bukan kesalahan”. Maksud Anda?
– Oh ya!. Saya dihakimi dan dihukum dengan tuduhan melanggar kode etik dan disiplin partai. Saya ingin mengatakan bahwa di Maluku barangkali dari sedikit anggota partai yang menjaga kode etik dan disiplin, omong kosongnya, salah satunya, saya. Semua penugasan partai ini saya kerjakan dengan sebaik-baiknya. Malah demi kehormatan dan kewibawaan partai ini, tidak akan pernah mau menyertakan kepentingan diri sekecil apa pun. Kalau soal kekalahan di pilkada MTB, dihadapan konstitusi dan hukum positif partai yang lainnya, saya tegaskan bahwa mendukung setengah hati paslon yang direkomendasikan DPP, itu tindakan yang benar.

Mengapa Anda mengatakan demikian?
Di Maluku ini, banyak yang mengaku diri kader, tetapi kerjanya hanya membebani partai ini saja. Pada kasus MTB, calon bupati yang kemudian kalah itu adalah contoh dari kader yang hanya membebani partai ini. Promosi berulang-ulang dalam berbagai event politik di MTB tapi kalah melulu. Ditugaskan dalam sejumlah peran penting, tak ada yang beres.

Sudah begitu kandidasi calon wakil yang disandingkan pun melalui aborsi dan kanibalisasi proses penjaringan dan penyaringan sebagaimana diatur dalam juklak DPP. Masa, ditemukan dalam perjalan menuju Jakarta untuk seterusnya diajukan untuk direkomendasikan?. Lha ini partai ideologis yang mestinya ketat sekali dalam promosi penugasan. Sebagai orang yang ikut jatuh bangun, tidak mungkin menutup mata terhadap realitas distortif seperti ini. Jadi kalau berpandangan bahwa sikap saya merupakan ekspresi pembangkangan, sangat disayangkan. Apalagi, menghukum dengan tujuan menghina dan membunuh karakter?.

Tapi benarkah ada kader di Maluku yang membebani partai ?
Di Maluku banyak sekali. Tengok saja yang ditugaskan di lembaga-lembaga perwakilan rakyat. Adakah yang prestisius atau paling tidak normal saja? Proporsi yang membebani partai ini mungkin mencapai 95%. Lihat saja yang diperjuangkan menjadi kepala daerah, adakah yang beres? Masa sih tiba-tiba jadi keluarga super?. Isteri, anak, adik, ponakan, dan lainnya semua kebagian. Seolah-olah semua kekuatan partai dikerahkan untuk memenangkan mereka hanya untuk mengurus kepentingan privat mereka. Ada yang anggota dewan, kepala dinas/badan, makelar, agen minyak tanah, dan seterusnya. Sebagai orang yang ikut mandi keringat, merasa bahwa partai yang dengan susah payah kita perjuangkan ternyata hanya jadi tunggangan kaum oportunis yang datang bergabung dan mengaku-ngaku diri sebagai kader.

Adakah yang salah?
– Dari segi kecukupan aturan partai sebagai dasar directing tindakan, saya rasa sudah lebih dari mencukupi kebutuhan. Tetapi permisivisme yang menjadi faktor kritis dibalik semua distorsi selama ini. Maka saya dibenci banyak fungsionaris karena selalu kritis dan mengambil sikap berbeda terhadap distorsi yang sengaja dilakoni kader semacam ini. Jadi sebetulnya pemecatan saya sampai tiga kali adalah proyek penyingkiran yang disengaja. Heee…

Sepertinya Anda tidak terbeban dengan pemberhentian ini?
Oh ya!. Karena sejak masuk sampai dipecat tidak pernah membuat malu partai ini. Selama tiga puluh tahun lebih mendedikasikan diri, nyaris semua enerji positif terbaik, saya kerahkan. Yang namanya pamrih diri, saya hindari sebisa-bisanya. Tujuh belas tahun saya ditugaskan mulai dari DPRD hingga Bupati MTB, hampir-hampir tidak kembali pokok. Pergi apa adanya, kembali juga begitu. Maka ketika mendengar pemecatan ini, dengan tersenyum saya katakan begini kepada diri saya : dihadapan konstitusi partai ini, saya berdiri setegak-tegaknya menerima penghinaan ini.

Adakah pelajaran yang Anda petik selama menjadi kader partai?
Kesulitan yang dialami warga partai ini selama era Orde Baru adalah pelajaran yang paling berharga. Aniaya seperti yang misalnya saya alami yaitu lebih dari dua puluh lima tahun hanya naik pangkat sekali, meyakinkan saya tentang kebenaran perjuangan mengakhiri kesewenang-wenangan. Core value seperti nilai-nilai kebangsaan, pengabdian tanpa pamrih, kejujuran dan keiklasan, solidaritas yang passing over, dan lainnya terbentuk dalam diri kami yang mengalami masa-masa itu.

Adakah tokoh partai di tingkat lokal yang menjadi teladan?
Almarhum Latif Hasanela, almarhum Ibrahim Makassar dan yang lainnya merupakan contoh orang-orang sederhana yang mendedikasikan diri tanpa pamrih untuk partai ini. Atau tokoh sekelas F.P.B. Litaay, ketua DPD pertama, benar-benar guru hidup bila ingin menjadi kader otentik partai ini. Setiap berpapasan saya terhenyak karena saya dengan mobil pribadi hasil DM, tetapi beliau malah sedang menunggu angkot bepergian. Bagi saya, beliau adalah tokoh hebat, tapi sekaligus “sekolah hidup pemimpin publik”.

Masih akan berkiprah?
Yang pasti tidak akan menoleh kebelakang. Nilai intrinsik dibalik diksi zo’on politicon, memang menantang untuk disemai pada diri mereka yang ingin berbeda dan menjadi politisi otentik. Soal masih akan berkiprah, entahlah …!!! (**)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

--- CONTOH IKLAN
To Top