Laut Banda, Pilkada Maluku 2018, Dan Blok Migas Masela – Rakyat Maluku
OPINI

Laut Banda, Pilkada Maluku 2018, Dan Blok Migas Masela

Rony Samloy

Catatan: Rony Samloy
Wartawan Harian Rakyat Maluku


MASYARAKAT
Maluku digiring dan tergiring pada opini tentang kekuatan kandidat-kandidat merebut simpati petinggi parpol di Jakarta. Itu jadi berita hangat, laris manis, juga bombastis di sejumlah media cetak lokal maupun media online hampir setahun terakhir. Padahal, pemilihan gubernur Maluku 2018 hanya formalitas pemerintahan dalam pesta politik rakyat lima tahunan yang output-nya akan selalu menguras tenaga, pikiran, bahkan finansial.

Media lokal justru larut dalam kepentingan membenarkan kepentingan bisnis, tetapi mengabaikan kepentingan sosial kontrol terhadap sistem politik yang korup dan selalu melahirkan elite-elite yang korup sehingga menyengsarakan, membohongi dan membodohi masyarakat. Media lupa memainkan perannya sebagai kekuatan pembaharu dan pencerdas kehidupan masyarakat di mana nilai sebuah rekomendasi politik itu tidak gampang diperoleh, relatif mahal, dapat berimplikasi dalam mengorbankan harapan rakyat, serta kian menambah angka kemiskinan masyarakat Maluku jika klausul-klausul transaksi politiknya justru lebih memojokan kepentingan elite-elite lokal.

Sejatinya ada transaksi elite lokal dan elite nasional terkait pemberian sebuah rekomendasi politik menuju pilkada Maluku 2018. Sebab, buah dari transaksi politik itu adalah garansi harta kekayaan Maluku, entah itu di darat maupun di laut. Klaim-menglaim atas pengelolaan Blok Migas Masela dan Blok-blok Migas lain di Kepulauan Maluku praktis memiliki korelasi kuat dengan kepentingan elite lokal dan elite nasional dalam membangun gurita bisnis menggunakan alur politik pilkada Maluku.

Bukan tak mungkin Blok Migas Masela menjadi garansi bagi siapa pun yang bakal memimpin Maluku yang sudah sejak ratusan tahun telah menjadi lahan subur bercokolnya jari jemari kolonialisme Eropa hingga lahirnya neokolonialisme Eropa, Amerika, Jepang, Tiongkok, Australia dan negara-negara lain di dunia. Sebagai referensi, Laut Banda pernah digadaikan selama 50 tahun kepada pihak asing.

Jangan sampai Blok Migas Masela dan Blok Migas lain di Maluku juga bernasib serupa dengan Laut Banda. Apalagi, Blok Masela dan kebanyakan Blok Migas lain di Maluku masuk dalam busur dalam Laut Banda.

Seyogianya masyarakat Maluku tidak perlu terlalu bereforia dengan pilkada Maluku 2018, karena siapa pun pemimpinnya dikhawatirkan mereka tidak akan mampu memberangus kaki tangan para kolonialis gaya baru yang tetap membentangkan patron liberalisme atas jargon kekuatan modal.

Angka kemiskinan mas­yarakat Maluku akan tetap berada di titik kritis karena seluruh sumber daya alam telah dikapling dan dikuasai jaringannya oleh pengusaha besar di luar Maluku.

Fenomena ini diperparah lagi karena mayoritas senator kita hanya pandai ’kewel’ saat pulang kampung jual obat-obat kedaluarsa menjelang pesta politik 2019 nanti. Senator kita tak lebih dari wakil rakyat 5D (datang, duduk, diam, dengar, duit dan pulang tidur sono). Kita butuh senator militan dan cerdas sekaliber mendiang Frans Fredrik Matruty yang berani bersuara lantang di hadapan 500an lebih senator asal Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan senator asal daerah-daerah lain di Tanah Air.

Kita juga butuh gubernur baru yang punya jaringan kerja sama internasional dan nasional yang kuat, berani bersuara demi kepentingan Maluku di Pemerintah Pusat, selalu turun melihat dan men­dengar aspirasi masyarakat Maluku dari Wetar sampai di Geser dan dari Wokam hingga Masela, punya konsep pembangunan yang terarah dan futuristik di seluruh aspek pembangunan. Olahraga juga harus jadi perhatian gubernur Maluku yang baru sebab sejauh ini sekmen ini menjadi sektor yang dilupakan dalam pergulatan pembangunan Maluku selama 72 berdiri.

Perlu revitalisasi pemikiran dan militansi gene­rasi muda Maluku saat ini agar nasib Maluku dapat dipertahankan dari ancaman-ancaman penjajahan gaya baru. Mari kita nafikan segregrasi teritorial maupun segregasi pemikiran kita selama ini “Se agama ini, dan beta agama ini, jadi katong berbeda’’ dengan mengusung slogan:katong samua basudara. ’’Maluku katong sama-sama pung Tanah Tumpah Darah. Mari katong selamatkan Maluku yang telah digadaikan oleh kepentingan elite lokal dan elite nasional demi anak cucu kita’’. Mena! (***)

Most Popular

--- CONTOH IKLAN
To Top