Pembagian Kuota BBM Tidak Merata, Diduga Ada Praktek Diskriminasi Di SPBU Di Kota Ambon – Rakyat Maluku
PRO-BISNIS

Pembagian Kuota BBM Tidak Merata, Diduga Ada Praktek Diskriminasi Di SPBU Di Kota Ambon

Ilustrasi

Rakyatmaluku.com – DIDUGA ada praktek diskriminasi pada sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dari PT Pertamina di Kota Ambon. Indikasi itu terlihat dari distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh PT Pertamina terhadap sejumlah SPBU di Kota Ambon dilakukan tidak merata. Padahal beberapa SPBU juga bisa menampung jumlah pasokan secara merata jika saja PT Pertamina berlaku adil dalam menetapkan kuota BBM.

Dari penelusuran koran ini terhadap sejumlah SPBU yang ada di Kota Ambon terungkap adanya ketimpangan dalam penerimaan kuota distribusi BBM. Sebagian hanya mendapatkan 10 Kilo Liter (KL), sedangkan sebagian SPBU lainnya mendapatkan 15 KL. Diduga SPBU yang menerima jatah kuota 15 KL itu punya kedekatan khusus dengan PT Pertamina.

Salah satu pengelola SPBU yang ditemui Rakyat Maluku, beberapa hari kemarin mengaku, sebelumnya, pasokan BBM ke SPBU itu dilakukan berdasarkan permintaan pihak pengelola SPBU sehingga berapapun yang diminta ke PT Pertamina akan terpenuhi. Namun belakangan ini, telah dilakukan penetapan kuota hingga berimbas pada kebutuhan distribusi BBM ke masyarakat menjadi berkurang.

“Kalau dulu itu tergantung kita yang minta. Tapi sekarang sudah diberlakukan sistem kuota sehingga kami dan beberapa SPBU lainnya hanya mendapatkan 10 KL dalam sehari. Bagi kami jumlah ini sangat tidak cukup untuk melayani masyarakat dalam sehari jika kami benar-benar forsir menyalurkannya,” akui salah satu pengelola SPBU kepada koran ini yang minta namanya tidak disebutkan kemarin.

Menurutnya, kebijakan PT Pertamina mem­berlakukan sistem kuota tentu menjadi alasan atas kebijakan perusahan pelat merah itu. Hanya saja pembagiannya dilakukan tidak merata dimana sebagian SPBU mendapatkan 10 KL dalam sehari sebagian mendapatkan 15 KL sehari. “Ini tentu sangat tidak adil menurut kami. Sebab, kapasitas penampungan kami juga cukup untuk menampung 15 KL dalam sehari,” cetus dia.

Dikatakan, jika ada alasan hal itu ditetapkan berdasarkan kapasitas daya tampung maupun jumlah volume kendaraan maka itu sangat tidak rasional. “Data tampung kami cukup 15 KL sama dengan SPBU lainnya. Begitupun jumlah volume kendaraan dalam sehari. Jadi kalau ini menjadi alasan itu naif namanya,” tukas dia.

Informasi lain yang berhasil dihimpun koran ini menyebutkan, selain soal pembagian jatah SPBU yang tidak merata, juga adanya dugaan permainan angka meteran atau jumlah liter dalam setiap pengisian BBM kepada masyarakat pengguna pengendara baik roda dua maupun roda empat. Sebab, ukuran pengisian bahan bakar minyak jika dibandingkan satu SPBU dengan SPBU lain tidak merata.

Contohnya, jika ada warga yang membeli BBM jenis Premium dengan harga Rp 20.000 dengan kondisi tangki penampung kendaraan kosong akan terlihat jelas. “Saya ini tukang ojek, jadi dimana saja ada kesempatan disitulah kami melakukan pengisian BBM. Tapi anehnya beberapa kali saya perhatikan jumlah liter yang terisi dengan jumlah nominal yang sama pada SPBU berbeda itu tidak sama,’’ ujar salah satu pengemudi ojek.

Dia mengakui, ada beberapa SPBU yang akhirnya dijadikan sebagai SPBU tempat pengisian BBM jika bahan bakar di kendaraannya sudah menipis. “Biar antre atau hujan saya tetap isi bensin di SPBU yang menurut saya ukurannya masih normal,” tuturnya.

Pengemudi ojek tersebut meminta intansi terkait dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan maupun aparat kepolisian untuk segera melakukan sidak di lapangan guna menertibkan oknum pengelola SPBU nakal itu. ‘’Satu-satunya jalan harus ada sidak di lapangan dari dinas terkait sehingga hal itu bisa terungkap agar kami masyarakat tidak dirugikan,” harapnya.

Mahdi Syafar, Sales Executive, PT Pertamina Cabang Ambon, membantah adanya dugaan dis­kriminasi terhadap sejumlah SPBU dalam penyaluran kuota BBM. Menurut dia distribusi BBM yang dilakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.”Itu tidak benar. Penyaluran kami tidak ada kaitan khusus antara SPBU satu dan lainnya. Kami sifatnya melayani masyarakat,”bantah Mahdi, Senin 6 Juni.

Menurutnya, dalam pendistribusian BBM ke SPBU tidak ada perbedaan perlakuan,Pertamina prinsipnya melihat potensi pasar pada wilayah-wilayah kerja SPBU yang ada.”Kalau potensi pasarnya bagus, maka disitulah ditetapkan jumlah kuotanya.

Jadi sekali lagi tidak ada kaitannya dengan perhatian khusus maupun hal lain yang dicurigakkan.”kunci Mahdi. (CIK)

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top