Politik Musuh Bersama Hanya Bentuk Sakit Hati – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Politik Musuh Bersama Hanya Bentuk Sakit Hati

Rakyatmaluku.com – KONSTELASI politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Maluku 2018 semakin ‘panas’. Muncul dua nama yang dulunya merupakan bagian dari gerbong politik ‘petahana’ yang justeru maju dalam bursa pencalonan Pilkada Maluku.  Tagop S Soulissa, Bupati Bursel dua periode, dulunya adalah ‘anak emas’ Said Assagaff. Ketika ramai Tagop diwacanakan sebagai bakal calon gubernur Maluku, tidak segan-segan publik menjudge Tagop sebagai kandidat ‘bonekanya’ petahana.

Namun, tudingan publik tersebut telah dipatahkan lewat berbagai klarifikasi secara terbuka.
Selain Tagop, sikap politik yang berseberangan juga datang dari Kakor Brimob RI, Irjen. Pol Murad Ismail. Jenderal bintang dua itu resmi menyatakan sikap serius ingin merebut tampuk kekuasaan di Maluku dari petahana.
Baik Assagaff, Murad maupun Tagop, memiliki optimisme sebagai pemenang. Selain melakukan gerilya dukungan politik, ketiga figur tersebut juga harus mampu membaca arah pasar politik yang semakin dinamis dan rasional. Bakal calon wakil gubernur juga menjadi salah satu indikator penting dalam mendulang dukungan publik.

Menanggapi dinamika yang semakin kencang, kader Partai Golkar Maluku, Abdussalam Hehanussa, menegasikan, dalam tradisi politik Pilkada langsung, tentunya posisi petahana menjadi seksi dimata bakal calon wakil gubernur.
Dengan kompetisi secara terbuka untuk merebut posisi nomor dua berdampingan dengan petahana,tentunya akan menjadi peluang tersendiri dimaksimalkan untuk memperkuat konsolidasi pada level gressroath.

“Semua bakal calon wakil gub pasti akan merebut petahana sebagai calon gub. Nah, suka atau tidak petahan mempunyai peluang besar memaksimalkan potensi untuk menang  periode ke dua dengan menggenjot tingkat konsolidasi ke akar rumput,”kata Hehanussa, kepada Rakyat Maluku, kemarin.

Tentunya, petahana memiliki plus minus di Pilkada, salah satunya adalah isu pembangunan sektoral akan diwacanakan untuk menghadap tingkat elektabilitas dan kepercayaan publik.

Menanggapi itu, Hehanussa menuturkan, sudah tentu selaku petahana pasti banyak isu negatif yang akan dijadikan media pembusukan pasangan calon lain dengan target black champing.

Tetapi, lanjut Hehanussa, hal positif  yang dilakukan petahana selama periode pertama juga harus dipublikasi karena pertarungan politik sudah tentunya menciptakan satu dimensi yakni ‘hasut menghasut’ yang sangat besar.

“Selaku kader kami selalu akan melakukan sosialisasi dengan apa yang telah beliau lakukan pada periode pertama untuk melanggeng ke periode ke dua. Kemudian, konteks pembangunan, bagi kami, secara teknis, penyerapan APBD selama lima tahun telah membuktikan bahwa komitmen pembangunan itu berjalan dengan baik,” sebutnya.

Soal isu petahana akan menjadi common enemy, Hehanussa menekankan, kelompok yang  mengisukan sebagai musuh bersama ada­lah mereka yang tidak mendapatkan tempat  dilingkaran petahana.

“Politik balas dendam karena tidak terakomodir adalah karakter politik haus kekuasaan. Wacana musuh bersama membuktikan betapa mereka tidak diterima pada kelompok politik petahana. Untuk itu, selaku kader, tanggung jawab sebagai garda terdepan memenangkan calon dari partai Golkar apalagi, ketua DPD sendiri sebagai petahana di Pilgub Maluku,” kuncinya. (ASI)

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top