Maluku Terkendala Finansial Bina Sepakbola – Rakyat Maluku
ALL SPORT

Maluku Terkendala Finansial Bina Sepakbola

Rakyatmaluku.com – PEMBINAAN persepakbolaan di Maluku masih berkutat pada persoalan klasik berupa minimnya pendanaan karena sejauh ini belum ditopang korporasi besar seperti di Jawa, Sumatera maupun Papua, untuk mendongkrak prestasi di kancah persepakbolaan elite Indonesia.

Selain itu nyaris hampir seluruh pejabat, baik gubernur, wali kota maupun para bupati, tidak memahami euphoria sepakbola dan mereka tidak memiliki visi dan misi untuk membangun manusia seutuhnya melalui sepakbola.Padahal jika ada komitmen tulus dari para pemangku kepentingan, niscaya sepakbola Maluku akan bangkit dan akan melahirkan satu atau beberapa klub elite yang berlaga di kancah persepakbolaan nasional.

Demikian simpul pendapat yang dirangkum dari dua narasumber, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Maluku Sofyan Chang Lestaluhu dan jurnalis olahraga senior Rony Samloy, dalam Dialog Olahraga Interaktif di RRI Pro 1 Ambon, Jumat (19/5).

Dialog berdurasi satu jam mulai pukul 08.00 WIT hingga pukul 09.00 WIT bertema ’’Strategi Pembinaan Sepakbola Maluku’’ itu dipandu Aty Makmara. Samloy menyatakan pendanaan masih menjadi rintangan besar dalam proses pembinaan sepakbola Maluku karena di daerah ini tidak ada perusahaan besar, seperti PT Freeport, Semen Padang, dan Petrokimia Gresik, yang bisa mengangkat derajat persepakbolaan setempat.

’’Persipura bisa disegani di level nasional karena ditopang Freeport. Papua punya wakil-wakil rakyat yang berani bersuara untuk pengembalian dana eksploitasi tambang dari pemerintah pusat senilai Rp 15 triliun per tahun. Di Maluku banyak sekali beroperasi perusahaan pertambangan maupun perusahaan-perusahaan perikanan, tetapi kantor pusat perusahaan-perusahaan besar tersebut berada di Jakarta. Mampukah elite-elite daerah ini berteriak untuk meminta bagian dana untuk pembinaan sepakbola atau pembangunan stadion di seluruh kabupaten dan kota. Ini persoalannya. Karakter pejabat-pejabat dan wakil-wakil rakyat di Maluku adalah ketika sudah kenyang, mereka lupa bahwa potensi masyarakat di bidang sepakbola, misalnya, perlu diakomodasi dalam sebuah klub amatir, klub semi professional atau klub profesional,’’ bebernya.

Samloy mengakui belum ada komitmen para pemangku kepentingan untuk memajukan sepakbola Maluku ke kasta tertinggi persepakbolaan Tanah Air. ’’Kalau dulu kan wali kota itu ex oficio ketua umum PSA Ambon. Sekarang sudah tak ada lagi hubungan simbiosis mutualisme ini. Selama hampir 20 tahun terakhir, sangat jarang ada calon-calon gubernur, calon-calon wali kota, dan calon-calon bupati, yang dalam visi dan misinya merancang strategi pembinaan sepakbola. Makanya perlu saya katakan jika bupati Maluku Tengah adalah sosok penggila bola, pasti sudah ada klub semi profesional dan professional dari Tulehu, tapi ternyata tidak kan. Jadi perlunya komitmen para pejabat di daerah ini untuk menghimpun para stakeholders, terutama praktisi sepakbola, pencinta sepakbola, dan jurnalis. Tujuannya untuk membahas kendala-kendala sekaligus mengeluarkan keputusan bersama untuk membangkitkan sepakbola Maluku. Sebenarnya kita bukan tidak mampu, tetapi pejabat dan masyarakat saja yang tidak mau mengambil risiko,’’ jabarnya.

Samloy menandaskan banyak sekali potensi pesepakbola andal di Maluku. Hanya saja, hingga kini belum ada klub elite asal daerah ini yang kehadirannya dapat menampung bakat-bakat terpendam. Itu pula yang menyebabkan banyak pesepakbola daerah ini yang terpencar membela klub-klub daerah lain karena potensinya tak dapat diwadahi dalam sebuah klub asal daerah ini. ’’Kita bersyukur masih punya kampung sepakbola yang namanya Tulehu di mana hampir setiap saat selalu memproduksi pemain-pemain untuk kebutuhan timnas usia dini, timnas usia muda dan timnas senior,’’ ulasnya.

Lestaluhu menjelaskan tugas Asprov PSSI Maluku hanya menggelar kompetisi-kompetisi yang dilakukan berdasarkan statuta PSSI dan FIFA. ’’Asprov PSSI tidak mengelola anggaran. Kita hanya menggelar kompetisi, dan kompetisi itu ada yang sudah berlangsung, masih bergulir dan akan bergulir di tahun ini, misalnya Piala Danone dan Piala Medco yang sudah selesai, Piala Suratin yang akan masuki babak final, dan Liga 3 yang akan kick off usai perayaan Idul Fitri tahun ini. Meski ada kekurangan pendanaan dan fasilitas yang kurang memadai, tetapi Asprov PSSI Maluku masih tetap menggelar kompetisi-kompetisi resmi PSSI,’’ ujar mantan pemain Persija Timur itu.

Dalam kaitan dengan pembinaan sepakbola usia dini, ujar Lestaluhu, tak hanya di Tulehu, tetapi di seluruh daerah di Maluku. ’’Ya, Tulehu itu dikenal sebagai Negeri Sambanya Indonesia. Orang bilang kalau mau main bola jangan pergi jauh-jauh sampai ke Rio de Janeiro, Brasil, cukup datang di Tulehu saja karena proses pembinaan sudah dilakukan sejak seorang anak baru lahir. Di Tulehu anak-anak main bola di lapangan, di gang-gang, di lorong-lorong, di Tanusang, dan di tempat-tempat di mana mereka bisa bermain bola.

Memang unik. Sebenarnya di tempat-tempat lain juga banyak bibit pemain bola, hanya pembinaan secara berjenjang tidak berjalan baik. Yang kita ketahui Lionel Messi dan Muhammad Abduh Lestaluhu kini menjadi pemain hebat karena pembinaan melalui kompetisi. Tak ada pemain bintang tanpa pembinaan dan kompetisi. Kompetisi merupakan urat nadi prestasi. Jadi bukan tiba masa baru tiba akal. Sesungguhnya hal ini terpulang kemauan baik dari para wali kota dan para bupati karena merekalah pemangku kepentingan yang bisa berperan sebagai fasilitator dan inspirator. Kalau daerah lain bisa, kenapa kita tidak,’’ ujarnya.

Sebagai salah satu bakal calon ketua umum Asprov PSSI Maluku 2018-2023, Lestaluhu berharap ada kepedulian Pemerintah Provinsi Maluku untuk memperbaiki kualitas Stadion Mandala Remaja di Karang Panjang, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. (ROS)

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top