Karnaval Budaya Multi Etnik Nusantara & Festival Music Hawaian – Rakyat Maluku
AMBONESIA

Karnaval Budaya Multi Etnik Nusantara & Festival Music Hawaian

Peserta karnaval menampilkan atraksinya masing-masing saat mengikuti Karnaval Budaya Multietnik Nusantara dan Festival Musik Hawaiian 2017 di Lapangan Merdeka Ambon, Kamis 18 Mei 2017.

Bukti Hidup Berdampingan Dalam Kedamaian

Rakyatmaluku.com – DIREKTUR Jenderal Kebuda­yaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI Himar Farid mengungkapkan karnaval bu­daya multietnik nusantara dan festival music hawaiian yang diselenggarakan Balai Pe­lestarian Seni dan Budaya Provinsi Maluku, merupakan bukti hidup berdampingan masyarakat Maluku dalam kedamaian.

“Saya kira Maluku dan kota Ambon khususnya memberikan kesan postif kepada masyarakat Indonesia tentang bagaimana hidup berdampingan dalam kedamaian,”ujar Farid dalam sambutannya sebelum membuka karnaval budaya multietnik nusantara dan festival music hawaiian, yang berlangsung dilapangan merdeka, Ambon, Kamis 18 Mei, dengan tema refleksi 200 Tahun perjuangan Pattimura, memaknai keberagaman untuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Selain itu dikatakan, kegiatan yang dimulai sejak tahun 2006 ini menunjukan kebesaran hati dari masyarakat Maluku, terkhususnya kota ambon dalam memberikan ruang kepada begitu banyak kelompok yang datang dari berbagai daerah untuk hidup bersama. “Saya kira kebesaran hati seperti ini yang mesti dicontoh oleh seluruh daerah di Indonesia,” pinta dia.

Melihat potensi seni dan budaya yang begitu luar biasa di Maluku, dirinya meminta kepada pemerintah kota Ambon dan Provinsi Maluku untuk membuka sekolah seni. Sehingga talenta yang dimiliki anak-anak Maluku dapat tersalur dengan baik. “Saya sangat bersukur Ambon, Maluku sudah mengambil langkah awal dan saya berharap ini bisa contoh oleh daerah lain,” ujar dia.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Maluku Hamin Bin Thahir, dalam sambutannya, mengakui Maluku kini telah menjadi rumah bagi kita semua. Maluku bukan lagi ada hanya untuk etnis Maluku saja, namun telah memberi ruang bagi muncul dan berkembangnya kebudyaaan suku bangsa nusantara.

Hal menarik lainnya dari hasil akulturasi itu, kata Hamin muncul pelbagai khazanah seni budya di daerah ini. Misalnya akulturasi budaya lokal dengan islam atau arab, seperti Abda’u di Tulehu, pukul sapu mamala- morela dan tarian sawat dan sebagainya. Akulturasi budaya lokal dengan arab dan melayu swperti tarian dana-dana. Serta akulturasi budaya lokal dengan barat, seperti tari katreji, musk hawaian, tarian oralapei, dansa ola-ola dan tarian cakaiba.

“Walaupun berbeda, kami semua merasa bersaudara atau orang basudara. Betapapun berbeda, tetap beta Maluku, yang merasa saling memiliki, sebagaiamana petuah-petuah luhur orang Maluku ini, ale rasa beta rasa (apa yang kami rasalan saya turut merasakannya), potong di kuku rasa di daging, sagu salempeng dibagi dua (sepotong sagu dibagi dua), atau ain ain, yaitu satu untuk semua semua untuk satu, serta pentingnya merawat persaudaraan sejati seperti janji para leluhur mauku di nunusaki nusa ina-pulau seram yaitu nunu pari hatu, hati paru nunu (bersatulah sperti pohon beringin melingkari batu karang, batu kerangn mendekap akar beringin serta pelbagai falsafah adat lainnya,”ucapnya.

Jelas Hamin, ada filosofis kuno yang menyebut orang maluku tampak kabaresi ( gagah perkasa), seperti pohon sagu namun hatinya terbuka bagaikan patih sagu yang putih bersih. Makna ini menjelma menjadi kekuatan oranv maluku dalam memandang konsep ke-indonesia-an dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa. Gagasan ini sejalan dengan tema krgiatan karnaval budaya multietnik dan festival musik hawaiian yang berkaitan dengan 200 tahun perjuangan pattimura bukan hanya pada orang Maluku saja namun telah mengakar dalam kemerdekaan bangsa indonesia.

Ia berharap agar kegiatan karnaval budaya multietnik nusantara dan festival musik hawaiian akan memancarkan energi positif bagi pembangunan kebudayaan di daerah kita. Di mana, musik dan kebudayaan tidak bisa di lepaspisahkan dari jiwa dan orang Maluku.

Di tempat yang sama, Stevanus tiweri kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNP) Provinsi Maluku, mengatakan Maluku memiliki kekayaan salah satu kebudayaan, suku, bangsa dan adat istiadat yang harus dikelola dan dirawat demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Untuk itu, lanjutnya dari tahun 2006 pihaknya telah melakukan karnaval budaya multietnik nusantara dan festival music hawaiian. Terbukti dari tahun ke tahun budaya dan group hawaiian terus meningkat, misalnya gorup hawaiian yang sebelumnya hanya 4, hingga tahun 2017 sudah mencapai 14 gorup.

Kata dia, tema yang diusung dalam kegiatan ini adalah refleksi 200 tahun perjuangan pattimura, memaknai keberagaman untuk persatuan dan kesatuan bangsa. Yang merupakan tujuan peran serta BPNP dan masyarakat dalam menyukseskan dan merayakan HUT Pattimura dan melestarikan budaya dan musik hawaiian sebagai investasi pembangunan Maluk.

Dijelaskan, peserta yang terlibat dalam karnaval budaya multietnik nusantara dan festival musik hawaiian sebanyak 35 pesertan, terdiri dari 5 peserta dari paguyuban nusantara 5, sedangkan 30 peserta dari sanggar kesenian dan suku bangsa 30 group. Kegiatan ini memilih route karnaval budaya multietnik nusantara dan festival musik hawaiian, dimulai dari lapangan merdeka menuju Jl. Sultan Harun, Jl. Slamet Riyadi, Jl. Pattimura, Jl diponegoro, Jl AY Patty dan kembali ke gong perdamaian. (YAS)

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top