Jaksa Eksekusi Mantan Dekan Fekon Unpatti Ke Lapas – Rakyat Maluku
HUK-RIM

Jaksa Eksekusi Mantan Dekan Fekon Unpatti Ke Lapas

Tim Kejaksaan Negeri Ambon mengeksekusi mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pattimura Ambon Latief Kharie, terpidana dalam perkara kourpsi dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2011, ke Lembaga Pemasyarakatan Ambon di Weiheru, Kamis 18 Mei 2017.

Rakyatmaluku.com – TIM Kejaksaan Negeri Ambon akhirnya meng­eksekusi mantan Dekan Fakultas Eko­nomi (Fekon) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Latief Kharie, terpidana kourpsi dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2011, ke Lembaga Pema­syarakatan (Lapas) Ambon di Weiheru, Kamis, 18 Mei 2017.

Menurut Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Ambon, Irwan Somba, eksekusi terhadap koruptor Latief Kharie berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) RI yang menolak permohonan kasasi dari pemohon Latief Kharie, dan menjatuhkan hukuman pidana penjara selama empat tahun, denda sebesar Rp 200 juta dengan subsider enam bulan kurungan, dan dibebankan membayar uang pengganti sebesar Rp 882.668.741.00 dengan subsider sembilan bulan kurungan.

“Berdasarkan petikan putusan dari MA RI yang diterima Kejari Ambon pada 20 Maret 2017 lalu, maka hari ini Latief Kharie resmi kita eksekusi ke Lapas Ambon untuk mempertanggung jawabkan perbuatan korupsianya,” ucap Irwan, kepada wartawan, di ruang kerjanya.

Dikesempatan yang sama, Penasehat Hukum (PH) Latief Kharie, Ali Tukan, kepada koran ini mengatakan, pihaknya tidak terima dengan proses eksekusi Kejari Ambon terhadap kliennya. Sebab, hingga saat ini dirinya belum menerima pemberitahuan putusan dari MA melalui Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Ambon.

“Kami sudah cek langsung ke PN Ambon terkait salinan putusan Kasasi dari MA atas terdakwa Latief Kharie, dan pihak PN Ambon sendiri mengaku belum menerima pemberitahuan putusan Kasasi atas klien kami ini. Seharusnya, putusan MA turun ke PN Ambon, kemudian PN Ambon meberitahukan kepada Jaksa dan terdakwa, baru selanjutnya dilakukan eksekusi berdasarkan putusan MA yang diterima itu,” kesal Ali. Meski demikian, pihaknya akan menempuh upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) untuk mencari keadilan hukum. “Eksekusi terhadap klien kami (Latief Kharie, red) tetap jalan, namun kami juga tetap melakukan PK,” tandasnya.

Sebagaiaman diberitakan koran ini sebelumnya, dalam putusan Pengadilan Tipikor Ambon, Latief Kharie dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, denda sebesar Rp 50 juta dengan subsider enam bulan kurungan, dan dibebankan membayar uang pengganti sebesar Rp 882.688.741,00 dengan subsider delapan bulan kurungan. Sebab, perbuatan Latief Kharie terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah secara bersama-sama dan berlanjut melakukan tindak pidana korupsi dana PNBP.

Tak terima dengan putusan Pengadilan Tipior Ambon, Latief Kharie kemudian menempuh upa­ya hukum Banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Ambon untuk mencari keadilan hukum. Namun, nasib berkendak lain. Dalam putusan Banding itu hukuman yang dijatuhi terhadap Latief Kharie lebih tinggi dari vonis Pengadilan Tipikor Ambon, yakni dijatuhi hukuman 3,6 tahun penjara oleh PT Ambon.

Masih belum puas dengan penegakkan hukum atas putusan PT Ambon, Latief Kharie kembali mengajukan permohonan Kasasi ke MA RI. Sayang, permohonan Kasasi dari pemohon Latief Kharie ditolak MA. Dalam putusan Kasasi itu hukuman yang dijatuhi terhadap Latief Kharie lebih tinggi dari vonis PT Ambon, yakni dijatuhi hukuman empat tahun penjara, denda sebesar Rp 200 juta dengan subsider enam bulan kurungan, dan dibebankan membayar uang pengganti sebesar Rp 882.668.741.00 dengan subsider sembilan bulan kurungan. (RIO)

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top