Sinyal Dari Hasto Memperkuat, Assagaff Optimis Kantongi Rekomendasi PDI-P – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Sinyal Dari Hasto Memperkuat, Assagaff Optimis Kantongi Rekomendasi PDI-P

Rakyatmaluku.com – BAKAL Calon Gubernur Maluku Said Assagaff, sangat yakin dan optimis dirinya bisa mengantongi rekomendasi dari partai berlambang moncong putih. Bahkan diapun memberikan signal kuat kalau bakal mengandeng orang Partai Demokrasi Indonesias Perjuangan (PDI-P) untuk ber­pasangan dengannya.

“Yang pasti di PDI-P saya akan daftar. Dan kalau saya daftar, saya yakin saya akan dapat,“ tandasnya optimis, Rabu 10 Mei kemarin. Iapun memastikan kalau tetap akan men­daftar di partai besutan Megawati Soekarno Putri ini. Kendati banyak kader PDIP terbaik yang bakal merebut rekomendasi tersebut akan tetapi signal kuat untuk keberpihakan rekomendasi sudah dirasakannya.

Keoptimisannya tersebut, lantaran sudah ada warning positif dari petinggi PDIP di pusat. Dengan demikian, sebagai seorang politisi, maka sudah tentu bisa melihat dan memahaminya. “Saya kan sudah merujuk ke PDI-P. Jadi pasti tahu dong dan mengerti,” tandasnya.

Statemen Assagaff ini disampaikan seteleah sebelumnya Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Hasto Kristiyanto mengeluarkan sinyal saat Rapat Kerja Daerah (Rakerda) partai berlambang moncong putih itu, Selasa 8 Mei, di Pacific Hotel.

Ada sinyal dalam perkataan Hasto bahwa Assagaff dengan trend elektabilitas yang konsisten, berpeluang diusung partai besutan Megawati Soekarno Putri tersebut.

Menanggapi peluang koalisi ‘gemuk’ Golkar-PDI-Perjuangan di Pilkada Maluku, Direktur Indonesia Research dan Strategy (IRS) yang merupakan lembaga konsultan politik, Djali Gafur menegaskan, jika pernyataan Hasto memiliki kaitan dengan ‘lobi’ tingkat tinggi untuk menyatukan Golkar-PDI-Perjuangan di Pilgub Maluku, maka, bargainingnya adalah komposisi kepemimpinan.

“Bisa saja itu menjadi sinyal politik elit partai dengan melihat pergerakan angka-angka petahana di Pilkada Maluku. Jika kedua kekuatan besar ini menyatu, maka tentunya mahar politik juga akan diatur, Itu merupakan sebuah konsekuensi. Model bargainingnya seperti apa, tapi secara rinci kami pun masih belum tahun, tapi analisis ke konfigurasi politik satu dua sudah tergambarkan secara konkrit,” kata Djali saat dikonfirmasi Rakyat Maluku, kemarin.

Soal wacana yang kian berkembang di publik bahwa secara politik, ada respect petahana Assagaff untuk mendapatkan tiket dari PDI-Perjuangan dengan menjadikan Edwin Huwae sebagai bakal calon wakil gubernur, menurut Djali itu merupakan pilihan rasional. Bila PDI-P gabung dengan Golkar, lanjut Djali, setidaknya koalisi konfigurasi juga menjadi indicator yang membuka peluang kemenangan bagi kedua pasangan tersebut.

“Wacana koalisi partai sampai konfigurasi bakal calon memang terus dinamis, terakhir wacana pak Assagaff dan pak Edwin juga kencang. Kalau itu terjadi, maka bagi saya konfigurasi tersebut menjadi pilihan paling rasional bila PDIP gabung dgn Golkar, setidaknya itulah yg membuat peluang menang terbuka luas,” ucapnya.

Tapi, Djali mengingatkan, dukungan partai saat ini lebih didefenisikan sebatas ‘tiket’ politik semata, namun, secara factual, kekuatan Pilgub mulai tertransformasi ke figuritas, baik dari sisi popularitas, likelability, maupun elektabilitas, dan plus dukungan finansial, serta jerjaring politik kandidat. Jika kandidat memiliki refresentasi kekuatan yang disebutkan diatas, maka sangat mempengaruhi figuritasnya dalam kancah politik.

“Tetapi lagi-lagi dukungan parpol hanya berlaku sebagai tiket daftar para kontestan. Kekuatan Pilgub ada di figur, baik dari sisi popularitas, likelability, maupun elektabilitas. Plus dukungan finansial, jaringan politik kandidat dan skema pengamanan administratif penyelenggara-pengawasan. Ini telah menjadi fakta politik dibeberapa daerah, salah satunya kejadian di Pilkada Jakarta, yang mana, branding Anis-Sandi memapu mengalahkan pengaruh parpol pengusung Ahok-Djarot, termasuk didalamnya adalah koalisi Golkar-PDIP,” tukasnya.

Kalaupun Golkar-PDI Perjuangan berkoalisi, tidak menutup kemungkinan, akan ada gerakan politik berbasis kultural sebagai segementasi yang dikeola untuk melawan dominasi dua kekuatan partai besar tersebut, dengan dalil bahwa tidak refresentatif. Dan peluang lawan politik Assagaff akan memanfaatkan segementasi kewilayahan sebagai issu krusial dalam pilkada Maluku semakin terbuka lebar, dan menjadi salah satu poros perlawanan politik.Sekaligu membuka gerbong baru di Pilkada Maluku, diluar Golkar dan PDI-Perjuangan.

”Saya juga memprediksi akan muncul gerbong baru, jika koalisi itu terjadi. Karena koalisi ini membuka peluang sentimen kewilayahan yang makin kencang. Jika gagasan prov Tenggara Raya serius maka butuh eksperimentasi politik. Tidak ada pilihan lain, harus ada calon dari Tenggara, nah dari sini muncul poros baru yang bisa saja mencalonkan Murad Ismail – Anderias Rentanubun, bisa Herman-Vanath atau Tagop-Orno dll. Peluang adanya konfigurasi politik baru karena berbagai dalil yang dibangun, salah satunya alasan paling klasik adalah adanya kekecewaan bila kuning-merah berkoalisi. Apalagi figur yang diusung tidak sepenuhnya merepresentasikan entitas/patronase tokoh berdasarkan kewilayahan,” kuncinya. (YAS/ASI)

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top