Golkar-PDIP Bisa Menyatu Di Pilgub Maluku – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Golkar-PDIP Bisa Menyatu Di Pilgub Maluku

Rakerda PDIP Maluku Digelar, Pilkada 2018 Dibahas

Rakyatmaluku.com – SAID Assagaff masih sangat diunggulkan. Meski sederet nama mengemuka sebagai ‘lawan’ tarung petahana. 2018 menjadi tahun politik yang cukup bergengsi.

Selain pada satu sisi, ada ekspektasi besar agar Partai Demokrasi Indonesia Per­juangan (PDIP) mampu menjadi pemimpin gerbong ‘oposisi’ dan disisi lain, banyak pihak juga memberikan pengamatan, akan terjadi lompatan politik diluar prediksi. Dimana, ko­mu­nikasi Golkar-PDIP akan men­cair dan mengusung pasangan yang notabene adalah figur masing-masing kader dua partai besar itu.

Pada edisi Rakyat Maluku, Kamis 5 Mei 2017 salah satu kader beringin memberikan statmen soal posisi Ketua DPD PDIP, Edwin Huwae yang cukup strategis untuk berpasangan dengn Assagaff selaku Ketua DPD Golkar yang diprediksikan akan memperoleh dukungan partai, apalagi sebagai petahana.

“Saya kira wacana pak Edwin yang dilirik Golkar tentunya memiliki alasan rasional dan politis, dengan mempertimbangkan kepentingan pembangunan nasional dan juga dinamika politik secara lokal. Artinya bahwa, dinamika politik memang sulit ditebak, terlalu dinamis, dan jangan salah jika akan ada kejutan,” kata kader muda Golkar Maluku, Fuad Bachmid, kepada wartawan, kemarin.

Fuad menegaskan, ‘mitos’ Golkar dan PDIP tidak akan pernah bersatu dalam momentum politik sudah dipatahkan, lewat berbagai kebijakan stategis yang diputuskan dewan pimpinan pusat masing-masing partai. Dalam skop nasional, publik merekam betul menyatunya Golkar dan PDIP di Pilkada Jakarta.

Kalau di Maluku, Golkar dan PDIP mengusung calbup-cawalbup Buru, dan juga di Malteng. Artinya, sangat fleksibel, tergantung kepentingan rakyat, apalagi memiliki orientasi politik yang sama demi kepentingan rakyat.

“Soal alasan bahwa dua partai besar ini tidak bisa menyatu dalam momentum politik, itu hanya pikiran politik yang skeptic. Mitos, sudah dipatahkan lewat berbagai momentum pilkada, salah satu contoh paling real ada di DKI Jakarta. Kalau skop lokalnya di Buru dan Malteng. Soal kemudian, apa yang menjadi batasan, saya kira tidak ada sepanjang kedua partai tersebut memiliki orientasi yang sama demi kepentingan masyarakat Maluku. Kepentingan daerah jauh lebih penting ketimbang kelompok dan orang perorang. Ini juga bisa menjadi sinkron dengan kepentingan nasional untuk daerah,” sebutnya.

Ditanya soal tanggapannya terkait dengan posisi bakal calon wakil gubenur yang ideal, Fuad menuturkan, sebagai kader partai, tentunya taat terhadap keputusan rekomendasi partai. Siapapun yang diusulkan tentunya sangat ideal, karena telah melalui kajian dan pertimbangan yang matang, termasuk jika nantinya akan diputuskan koalisi besar di Pilkada  Maluku.

“Semua orang sedang berproses menuju restu DPP. Pasangan incumbent, tentunya akan dibedah secara detil, termasuk, dari partai mana dia diusung. Soal selanjutnya, kami menilai bahwa, kewenangan pimpinan memutuskan dan menginstruksikan kepada seluruh kader untuk bekerja mengamankan dan memenangkan paslon yang diusung. Untuk itu, sebagai kader saya akan all out, apalagi kalau ada koalisi besar menuju Maluku 2018,” paparnya.

SIAPKAN MESIN PARTAI
Sementara itu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Maluku, Senin 8 Mei 2018 menggelar Rapat Kerja (Rakerda).

Salah satu agenda penting yang dibahas pada Rakorda tersebut yakni menyiapkan ‘mesin’ PDIP menjelang Pilkada serentak ke III yang akan dihelat pada dua kabupaten kota dan pemilihan gubernur Maluku pada 2018 mendatang.
Pantauan koran ini, rakorda PDIP Maluku yang digelar di Pacifik Hotel, dihadiri langsung Sekretaris Jendral (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP, Hasto Kristyanto, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Mercy Barends, Ketua Badan Penghormatan DPP PDIP Komarudin Watubun, dan seluruh ketua, sekretaris dan bendahara PDIP seluruh  Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP dari sebelas kabupaten/kota di Maluku.

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristyanto, kepada pers, usai membuka pelaksanaan Rakorda PDIP Maluku mengatakan, Rakorda dilaksanakan untuk menyampaikan beberapa agenda besar di internal partai dalam menyikapi dinamika politik lokal maupun nasional untuk kemudian disampaikan ke jajaran partai agar semakin kuat membangun kesadaran ideologi dan kesadaran sebagai orang partai dalam menghadapi ancaman ideologi yang kian nyata.

“Ada pihak-pihak yang ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi lain dan mengganti dasar negara. Karena itulah PDIP mengkonsolidasikan kepada seluruh jajarannya agar semakin meningkatkan efektivitas komunikasi politik dengan masyarakat untuk menggalang persahabatan dengan seluruh tokoh agama, mengorganisir rakyat guna menangkal berbagai ancaman ideologi tersebut,” ujar Hasto.

Selain itu, lanjutnya, pihaknya juga melakukan konsolidasi kepartaian untuk persiapan menghadapi Pemilihan kepala Daerah di Maluku 2018 yang akan datang.

“Dimana pelaksanaan Pilkada serentak ini akan simultan dengan Pemilihan legislatif, sehingga diperlukan langkah serius dan sekaligus memperbaiki kinerja partai dalam menghadapi agenda-agenda Pemilu tersebut,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua DPD PDIP Maluku Edwin Adrian Huwae mengatakan Rakorda DPD PDIP Maluku itu dilaksanakan dalam rangka untuk menyiapkan seluruh perangkat atau mesin partai menjelang kontestasi politik yang akan diselenggarakan pada 2018 mendatang.

“Rakorda yang dilaksanakan itu membahas terkait situasi-situasi nasional, daerah dan memberikan penguatan-penguatan terkait sikap-sikap politik PDIP agar tetap sebagai kader-kader nasionalis, dengan mempertahankan prinsip kebangsaan dan kebhinekaan NKRI,” ujar Edwin.

Dikatakannya, Rakorda yang dilaksanakan juga merupakan dalam rangka melakukan pemetaan politik, sehingga yang akan didengar itu adalah suara rakyat. Dan karena itu, maka apapun peluang dan kesempatan kedepan tentu juga tidak terlepas dari kepentingan rakyat di Maluku yang berkaitan dengan ptoses-proses politik kedepan.
“PDIP sementara ini sedang melakukan pemetaan. Dan setelah Rakorda ini, PDIP akan melakukan pem­bukaan pendaftaran kepada seluruh kabupaten dan kota serta provinsi Maluku untuk menjaring bakal calon kepala daerah, di dua kabupaten kota dan provinsi Maluku,” tandas Edwin.

USUNG CAGUB
Dinamika pilkada semakin meningkat. Meski, belum mengerucut secara utuh konfigurasi bakal calon yang akan berduel di arena politik kerakyatan 2018 mendatang. Namun, public perlahan menangkan sinyalemen konfiguratif, bakal calon pasangan yang akan bertarung.

Jika melihat secara rinci, Golkar akan tetap mengusung petahana Said Assagaff sebagai kader dan juga Ketua DPD partai, sementara PDIP  yang kerap menjadi pesaing berat Golkar, apakah tetap dalam langkah yang sama, mengusung bakal calon gubernur ataukah, hanya sebatas bakal calon wakil gubernur dan berkolaborasi dengan golkar pada gelanggang pilkada, tentunya, public menunggu kejutan serta dinamika pilkada yang akan dihelat 2018 nantinya.

Alexander Pattiasina, salah satu kader PDIP Maluku, secara tegas berharap partai berlambang banteng moncong putih tersebut dapat mengusung calon kandidat gubernur Maluku di Pilkada 2018 nantinya. Tentunya, ekspektasi Pattiasina tersebut agar partai besutan Megawati itu, kembali dalam ruh perjuangan demi kepentingan rakyat di Maluku.

“Sebagai kader saya sangat berharap ada calon gubernur yang diusung oleh PDIP di Pilakda Maluku 2018 nantinya. Sebagai partai besar, tentunya kami selaku kader siap berjuang pada pilkada yang akan berlansung satu tahun lagi,” ucapnya kepada Rakyat Maluku, kemarin.

Dia mengaku, tentunya PDIP sebagai partai terbuka dan nasionalis, tidak memabataskan diri terhadap bakal calon kepala daerah yang akan berposes, namun, harus sesuai dengan mekanisme kepartaian, yakni Juklak yang telah ditetapkan DPP PDIP.

“Artinya bahwa, kami tetap inginkan PDI-Perjuangan mengusung calon gubernur, bukan berarti menutup proses dan mekanisme penjaringan calon kepala daerah secara terbuka. Semua bakal calon silahkan berproses tetapi harus sesuai dengan juklak dari DPP,” ungkapnya.

Pattiasina juga mememastikan, jika PDIP mengusung calon kepala daerah Maluku di pilkada 2018, tentunya adalah figure yang mampu menerjemahkan roh dan jiwa perjuangan partai demi kepentingan rakyat di daerah ini.

“Saya kira konsekuensi logisnya adalah, figure yang diusung partai adalah orang yang mengerti dan mampu menerjemahkan roh dan jiwa partai PDIP. Karena, sebagai partai wong cilik, pastinya kepentingan masyarakat menjadi tujuan yang paling penting. Pastinya, para kader, dan simpatisan partai menginginkan PDIP rebut kembali kepemimpinan Maluku,” kuncinya. (ASI)

 

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top