Bertemu, Tagop-Orno Belum Deal – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Bertemu, Tagop-Orno Belum Deal

Tagop S Soulissa - Barnabas N Orno

Rakyatmaluku.com – TERNYATA Bupati Maluku Barat Daya (MBD) Barnabas N Orno sudah bertemu dengan Bupati Buru Selatan  Tagop  S Soulissa untuk mem­bi­carakan kemungkinan keduanya berpasangan di Pilgub Maluku tahun 2018.

Kepastian pertemuan kedua kepala daerah yang dimekarkan bersamaan ini diakui sendiri oleh Tagop S Soulisa kepada wartawan di Buru Selatan, di penghujung acara MTQ Provinsi Maluku di kabupaten tersebut.
Hanya saja, Tagop akui belum ada kata sepakat soal siapa yang harus jadi Bakal Calon (Balon) Gubernur dan siapa yang harus jadi balon wagub. Tapi sebagaimana Orno, Tagop juga berharap dialah yang menjadi balon gubernur dan Orno sebagai balon wakil.

Yang menarik, Tagop berstatemen bahwa dirinya tidak akan bekerja, jika PDI-P hanya mencalonkan wakil gubernur.
“Memang ada pertemuan, tetapi kita berbicara hanya sebatas saling membuat peta. Karena di PDI-P ini ada beberapa nama yang akan disurvey sebagai kader, yaitu Pak Komar, saya dan Pak Abas dan Pak Herman,” kata Tagop, kepada wartawan, Jumat, 5 Mei 2017, di ruang kerjanya.

“Dari hasil pemetaan yang ada, beta kira harus beta pung saudara-saudara harus berjiwa besar gitu loh. Ada baiknya kita bergandengan tangan. Seperti Pak Orno khan, beta berharap Pak Orno bisa menjadi beta pung wakil,” kata Sudarsono.

Menurut Tagop, dirinya bersama Orno memiliki latar belakang yang sama serta memiliki kecocokan yang layak untuk dipaketkan guna memenangkan Pilkada Maluku nantinya.

“Karena, katong dua berasal dari latar belakang yang sama dan kedua katong punya kecocokan. Memang Pak Orno juga lebih tua sedikit dari saya, tetapi jiwa mudanya juga kan dan saya kira semangatnya tinggi,” tutur Tagop.
Menurutnya, ketika kedepan, dirinya membagi kewenangan dan pemerintahan, tentunya akan berjalan sinergi dan mampu mengikuti irama yang baik untuk kemajuan Maluku.

“Karena pemimpin di Maluku kedepan, tidak hanya berdiri dan duduk-duduk saja, tetapi kita harus mampu bergerak dan melihat sejauh mana harapan-harapan masyarakat lebih jauh lagi dan kita menjawab secara konprehensif dan harus terkoneksi dengan program-program pemerintah kabupaten/kota dan tidak bisa secara umum,” kata Master Teknik ini.

Apalagi, lanjut dia,  selama ini ada berbagai media yang disediakan, seperti rapat koordinasi pimpinan daerah hingga musrembang dalam rangka penyamaan persepsi, namun ternyata implementasinya tidaklah sejalan dengan apa yang diharapkan.

“Iya kan, masing-masing jalan sendiri-sendiri dan tidak fokus penyelesaiannya. Kalau misalnya kedepan kita fokuskan program, kita menyatukan program secara konprehensif, kepala daerah juga benar-benar paham dengan kondisi sosial masyarakat, saya yakin dia akan bisa menyelesaikan masalah-masalah di Maluku,” ujar Tagop.
Apalagi, lanjut dia, dirinya bersama Orno paham betul tentang wilayah dan karakter masyarakat di seluruh wilayah Maluku ini.

“Saya dan pak Orno paham betul dengan karakter wilayah masing-masing, saya paham betul wilayah Maluku Tengah, Buru dan Kota Ambon. Sedangkan, Pak Orno paham betul wilayah MBD, MTB, Kepulauan Aru, Maluku Tenggara dan Tual. Walaupun saya juga paham betul soal wilayah di sana karena saya juga tujuh tahun sebagai peneliti. Saya sudah pernah turun di sana sehingga saya paham betul soal karakter wilayah maupun karakter masyarakatnya, ditambah dengan keberadaan Pak Orno. Harapan saya seperti itulah,” kata Tagop.

Soulisa menyebut, sebagai kandidat, seseorang, termasuk dirinya haruslah paham tentang peta jumlah penduduk dan atau pemilih di daerah ini.

“Peta penduduk harus kita pahami, jumlah pemilih Maluku Tenggara Raya, total pemilih semua itu masih kalah dengan pemilih Kota Ambon, apalagi dengan Maluku Tengah. Saya punya basis itu jelas, modal utama itu Bursel dan Buru. Walaupun hari ini orang boleh bilang Golkar menang disana, pemilihan Gubernur itu beda, beda dengan pemilihan Bupati atau legislatif. Emosional orang Buru itu pasti ada,” ujar Sudarsono.

Kemudian, tambahnya lagi,  di Malteng, semua orang yang ada di wilayah itu maupun daerah otonom baru pemekaran dari Kabupaten Malteng pastinya masih menyimpan rasa terima kasih kepada Bupati Malteng pertama, Abdullah Solissa yang tidak lain adalah kakeknya.

“Yang jelas orang di Malteng masih menyimpan rasa terima kasih bagi orang tua saya dan kita terlahir sebagai pemimpin di Maluku yang belum pernah cacat dan sangat diterima oleh semua kultur masyarakat, baik itu sectarian maupun primordial. Itu yang saya masih merasa yakin sampai hari ini saya bisa untuk itu,” katanya.
Dirinya mengaku bahwa keputusan berpasangan atau tidaknya Ia dengan Orno, masih menunggu hasil survey yang dilakukan oleh PDIP.

“Jadi, dari pembicaraan kemarin itu sebatas itu. Nanti hasilnya seperti apa, nanti dilihat. Jadi, saya dan Pak Abas coba memetakan kekuatan kita. Jadi catatan, yang kalah untuk menang itu susah, apalagi lawan incumbent kan. Lebih baik wajah baru, masih punya basis dan kekuasaan. Jadi, kalau yang sudah pernah kalah dan tidak punya basis itu susah,” tutur Tagop.

Pada kesempatan itu, dirinya mengaku bahwa PDI-P saat ini tidak berfikir untuk mempersiapkan kadernya sebagai Cawagub saja, tetapi berfikir untuk mempersiapkan kader terbaiknya untuk berkompetisi sebagai Calon Gubernur dan sebagai kader, dirinya sangat setuju akan hal itu.

“PDI-P tidak berfikir untuk calon wakil, PDI-P pemenang pemilu. Kalau siapa pun yang jadi wakil saya tidak akan bekerja. Lebih baik kita bekerja untuk  memenangkan PDI-P di Maluku,” ujar orang nomor satu di Fuka Bipolo ini.
Tagop pun mengaku bahwa selain dirinya telah berkomunikasi dengan PDI-P yang adalah partai yang menaunginya, ia juga telah membangun komunikasi dengan sejumlah partai lain, namun hal itu belum bisa diungkapkan kepada public, mengingat kontestasi politik Maluku sudah kian memanas.

“Saya sudah berkomunikasi dengan beberapa partai tetapi itu masih rahasia, tetapi jangan bilang dululah, sebab bisa saja kita dapat sleding, apalagi kita berhadapan dengan kekuatan financial lawan yang kuat, apalagi kita ini apa adanya,” kata Soulisa.

Saat ini, dirinya masih terfokus untuk bagaimana menjadikan Maluku Hebatlah, Maluku yang memiliki identitas, Maluku yang diakui.

“Seperti Bursel hari ini, kita di akui di Maluku, dimana-mana, betul  tidak,” katanya. Dirinya berharap, jika dipercayakan oleh rakyat Maluku untuk memimpin Bumi Pela Gandong ini, maka dirinya akan mengupayakan agar Maluku bisa keluar dari peringkat termiskin nomor tiga di Indonesia.

“Saya mau buat, bahwa ketika orang datang di Maluku, ternyata Maluku begini loh. Minimal di data BPS itu Maluku hilang dari kemiskinan tertinggi dahulu, itu yang utama dulu. Kita jangan bicara lain dulu,” tutur Tagop.

Sebab, selama ini sering kita bangga dan bahkan sombong dengan megahnya Jembatan Merah Putih (JMP), padahal JMP tidak mengurangi angka kesmikinan di daerah ini. Begitu pun dengan program Ambon City Of Music, padahal itu pun tak berdampak pada pengurangan kemiskinan di daerah ini.

“Jadi, kita membentuk identitas dahulu. Dimana, dalam konteks pendidikan pun jangan kita di nomor duakan terus. Sebab, sekarang malah kita berkaca kepada  orang Papua, mereka lebih berkembang dari kita dalam dunia pendidikan,” kata Tagop.

Jadi, kedepan mau tidak mau harus ada intervensi pemerintah daerah disitu dan tidak bisa hanya melepaskan kepada lembaga perguruan tinggi saja, karena fungsi sosial kemasyarakatan dari pemerintah daerah itu termasuk juga dalam membina dan sesuai tugas dalam Undang-Undang itu, anggaran 20 persen itu harus diberikan.
“Bukan ansih pendidikan dasar dan menengah saja, tetapi juga pendidikan tinggi, kemudian di bidang riset atau penelitian juga harus ada. Sebab, dari hasil riset itu juga bisa memberikan rekomendasi-rekomendasi yang bisa dipakai untuk membangun daerah ini lebih baik lagi,” ujar Soulisa.

Sebelumnya, Bupati MBD Barnabas N Orno sudah menyampaikan kepada publik lewat media massa saat Puncak HUT Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku  di Tiakur bahwa dirinya berproses di PDI-P sebagai balon gubernur, bukan sebagai balon wakil gubernur.

Orno merasa perlu untuk mengklarifikasi agar jelas, karena selama ini khabar berseliweran menjadi simpang siur tentang informasi dirinya terkait Pilgub Maluku.

‘’Saya berproses di PDI-P. Selain saya, ada beberapa nama lainnya, seperti pak Komarudin Watubun, pak Edwin Huwae, dan pak Tagop Soulissa. Itu yang dari Internal PDI-P. Sementara dari unsur eksternal juga ada banyak, antara lain, pak Murad Ismail, pak Herman Koedoeboen dan beberapa nama lainnya,’’ pungkasnya.

Orno menyebutkan, PDI-P adalah partai terbuka dan demokratis sehingga apapun yang diputuskan nanti dan siapa yang direkomendasikan tentunya berdasarkan  pertimbangan yang matang dan merupakan keputusan yang terbaik.
‘’Jika saya yang direkomendasikan oleh DPP PDI-P maka saya siap melaksanakannya karena itu penugasan partai. Tapi kalau, pak Komar, pak Edwin atau pak  Tagop, ataupun nama dari unsur eksternal maka saya juga harus menghormatinya dan siap bekerja untuk memenangkannya,’’ tegasnya.

Karena itu, Bupati MBD dua periode ini meminta dukungan semua pihak terhadap proses yang sementara berlangsung.  (YUL/NAM)

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top