Warga Pandan Kasturi Dituntut 15 Tahun Penjara – Rakyat Maluku
HUK-RIM

Warga Pandan Kasturi Dituntut 15 Tahun Penjara

Rakyatmaluku.com – WARGA Pandan Kasturi, RT.002/ RW.001, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, La Feri alias Faeri alias Panjang (40) dituntut 15 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon. Selain itu, terdakwa La Feri alias Faeri alias Panjang juga dituntut membayar denda sebesar Rp 1 miliar dengan subsidair enam bulan kurungan, dengan perintah terdakwa tetap ditahan.

Sebab, perbuatan terdakwa La Feri alias Faeri alias Panjang terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan memaksa anak kandungnya yang masih dibawah umur melakukan persetubuhan.
“Menyatakan, perbuatan terdakwa La Feri alias Faeri alias Panjang terbukti melanggar pasal 81 ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak,” ucap JPU Inggrid Louhenapessy, saat membacakan amar tuntutannya di Pengadilan Negeri (PN) Ambon, Kamis, 27 April 2017.

JPU dalam dakwaannya menjelaskan, perbuatan haram yang dilakukan ayah bejat terhadap anak kandungnya itu terjadi di rumahnya, tepatnya di dalam kamar tidur, yang beralamat di Pandan Kasturi, RT.002/ RW.001, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Saat itu, korban yang baru putus sekolah di bangku kelas 5 SD pada Sabtu, 15 Oktober 2016, sekitar pukul 09.00 Wit, tengah berada di dalam rumah bersama terdakwa. Kemudian terdakwa yang berada di dalam kamarnya memanggil korban untuk masuk.

Setelah korban masuk kedalam kamar, terdakwa yang saat itu posisi terlentang di atas tempat tidurnya kemudian melucuti celana korban hingga lutut. Korban kemudian bertanya kepada terdakwa “bapa mau biking apa”. Terdakwa menjawab “bapa cuma gosok-gosok saja”.

Selanjutnya terdakwa menyuruh korban membuka semua pakaian korban, kemudian terdakwa mengangkat korban dan menidurkan korban diatas tempat tidur dengan posisi terlentang.

Dengan cara kasar dan paksa, terdakwa dengan tega terus melancarkan aksinya terhadap anak keduanya itu. Saat itu, korban sempat berteriak kesakitan, namun terdakwa tqnpa rasa kasihan tetap meneruskan perbuatan bejatnya.
Setelah menumpahkan nasfu birahinya, beberapa hari kemudian terdakwa kembali mengancam korban dengan sebilah pisau dengan mengatakan “kalau ose kasih tau mana, bapa tikam ose dengan pisau”.

Kemudian terdakwa mengajak korban masuk kedalam kamar untuk memaksa korban berhubungan badan. Korban yang masih polos penuh ketakutan itu akhirnya menuruti semua kemauan terdakwa.

Setelah mendengar pembacaan amar tuntutan oleh JPU, majelis hakim yang diketuai Amaye M. Yambeyapdi kemudian menunda persidangan hingga Kamis pekan depan, dengan agenda sidang pembelaan dari terdakwa.
(RIO)

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top