Setelah 342 Tahun, Atepoput Rumah Pusaka Lating Nuspaty Diganti – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Setelah 342 Tahun, Atepoput Rumah Pusaka Lating Nuspaty Diganti

Dihadiri Empat Kesultanan Dari Maluku Utara 

Setelah persiapan hampir sebulan penuh, ak­hirnya, ritual adat pergantian atepo­put (atap pamali) Rumah Tua Lating Nustapy, Desa Hila, Kecamatan Leihitu di­lak­sanakan Minggu, 16 April 2017.

RIBUAN orang menjadi saksi, baik dari ke­turunan keluarga Lating Nustapy, masyarakat negeri Hila, maupun orang-orang yang ber­bondong-bondong hadir untuk menjadi saksi perjalanan sejarah yang melibatkan berbagai daerah (negeri) baik didataran Jazirah Leihitu, Kota Ambon, Maluku maupun empat kerajaan (Maluku Kie Raha) di Maluku Utara.

Dari penuturan sejumlah pihak yang meru­pakan anak-cucu dari dati Lating Nustapy tersebut, prosesi pergantian atepoput (atap pamali) Rumah Lating Nustapy ini, merupakan tahap kedua, setelah 1675 tahun lalu pada pemerintahan Hasan Solaiman. Sekitar tahun 1974, dituturkan bahwa terjadi gempa berkuatan besar di Pulau Ambon yang mengakibatkan kerusakan terhadap Rumah pusaka Lating Nustapy. Kemudian, setahun kemudian (1975) Hasan Solaiman berinisiatif untuk memperbaiki kembali kerusakan yang didera akibat bencana alam tersebut.

“Terhitung semenjak tahun 1975 dilakukan renovasi atau perbaikan pertama pada Rumah Tua Lating Nustapy. Kerusakan tersebut dikarenakan bencana gempa yang melanda Pulau Ambon pada tahun 1974. Nah, pasca gempa setahun kemudian dilakukan renovasi untuk pertama kalinya,” tutur A. Lating salah satu anak cucu yang ikut terlibat dalam prosesi pergantian atepoput Rumah Pusaka Lating Nustapy, kemarin.

Sejak 1975 sampai 2017, baru kembali dilakukan pergantian atepopu rumah Pusaka Lating Nustapy. Pergantian atap pamali rumah adat di Negeri Hila tersebut, tidak hanya memiliki makna sosilogis yang berkaitan dengan perjalan histrori secara harifah saja, melainkan, ada makna filosofis yang begitu mendalam yang mengatur tentang hubungan persaudaraan system kerjaan kala itu.

Dalam penuturan lain, yang ramai diperbincangkan masyarakat negeri Hila, bahwa, Atepoput (Atap pamali dan tali gamutu) menggambarkan sebuah simbol yakni perjanjian dan persaudaraan yang kuat antara sesama masyarakat adat Negeri Hila. Makna dari tali gamutu adalah suatu ikatan persaudaraan dari satu negeri adat yang tidak bisa dipisahkan oleh apapun.

Ritual pergantian atepoput tentunya memiliki ‘magnet’ ternsendiri yang cukup kuat. Pasalanya, masyarakat (anak-cucu) yang berasal dari rumah pusaka Lating Nustapy yang berada diperantaun berbondong-bondong kembali untuk menyaksikan prosesi ritual adat yang tentunya sangat penting bagi mereka.

“Ini merupakan momentum penting bagi kami, selaku anak cucu dari Rumah Lating Nustapy untuk hadir menyaksikan perjalanan sejarah yang terjadi ratusan tahun lalu. Sebagai bagian dari sejarah pula, maka kami selaku anak cucu wajib menjadi saksi atas prosesi adat yang bagi kami begitu sacral ini,” tutur Indra Soumena.

Ritual, pergantian atepoput juga tidak hanya terjadi pada rumah pusaka Lating Nustapy saja di Negeri Hila,Kecamatan Leihitu, tetapi, ada beberapa rumah adat lain juga dengan ritual yang sama. Semisal, Rumah adat Selang, atau Hatala di Negeri Hila. Tetapi, dalam hubungan histori, Rumah pusaka Lating Nustapy tentunya memiliki perjalanan yang berbeda secara sosiologis, dengan rumah pusaka lainnya.

Misalnya, rumah Pusaka Lating Nustapy mempunyai Atepoput dalam bentuk potongan waji besar berantai yang terdiri dari jiku empat dan dua segi tiga yang melambangkan keterkaitan Empat Perdana yakni Perdana Jamilu, Perdana Patituban, Perdana Totohatu, Perdana Tanah Hitumessing dengan Upuatelu (tiga amang) yakni amang Sanalu, amang Tihupai dan amang Masapal.

Makna ikatan Atepuput (tali pamali) lebih mengarah pada Perjalanan, Tatanan dan Ketahanan. Makna perjalanan berhubungan dengan suatu perjalanan yang ditempuh oleh empat perdana dalam menjalankan syiar islam di tanah Hitu, Pulau Ambon. Tatanan makna ini mengandung pembentukan tatanan sebuah masyarakat adat berupa tradisi, norma, nilai dalam interakasi sosial masyarakat Islam.

Ketahanan, makna ini berhubungan dengan ketahanan suatu masyarakat meliputu ketahanan adat, ketahanan kehidupan, sosial, budaya dalam masayarakat yang berkeadaban Islam.

Prev1 of 3

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top