Disperindag Didesak Evaluasi Harga Penjualan ATK – Rakyat Maluku
AMBONESIA

Disperindag Didesak Evaluasi Harga Penjualan ATK

Rakyatmaluku.com – DINAS Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) baik Provinsi Maluku maupun Kota Ambon, didesak untuk segera melakukan operasi pasar terhadap harga jual-beli alat tulis kantor (ATK). Pasalnya, harga jual-beli ATK yang dipasarkan oleh sejumlah toko di Kota Ambon, jauh dari harga pasar sebenarnya.

Bahkan, ditemukan ada penjualan kertas berjenis dov dan BC, yang jumlahnya tiap pak 100 lembar, tapi setelah dibuka, isinya tidak 100 pc. “Toko-toko ATK bebas melakukan penjualan dengan harga di atas kebutuhan konsumen ini, akibat kurangnya kontrol dari pemerintah. Selama ini, kontrol hanya dilakukan kepada para pedagang Semabako. Mestinya, semua pedagang harus dikontrol, termasuk pedagang ATK.” Demikian disampaikan salah satu konsumen, Rita Sukiman (27), kepada Rakyat Maluku, usai membeli kertas di Toko Wangi-wangi, dan ternyata setelah dihitung, ditemukan jumlah pc kertas dov, yang dibeli dengan harga Rp38.000 per pak, isinya hanya 60 pc dan 70 pc.

Padahal, kata dia, terdapat lebel di atas pak kertas, bahwa jumlah jumlah 100 pc. Setelah dikoreksi, ternyata ada yang jumlahnya 60 pc, ada ada yang berjumlah 70 pc. Sungguh sangat disayangkan, kata dia, karena saat membeli, Rita sempat menanyakan jumlah kertas tersebut. Menurut salah satu penjual di toko tersebut, kata dia, jumlahnya 100 pc, sesuai yang tertera di atas kertas. Rita menduga, penjualan ini merupakan salah satu praktek dagang yang tidak benar, karena memang, selama ini para pedagang ATK jarang dikontrol secara ketat oleh pemerintah.

Untuk itu, ia berharap persoalan ini segera disikapi dengan serius. Pasalnya, ATK sangat laris-manis dibutuhkan masyarakat, tak hanya kebutuhan kantoran saja, tapi juga masyarakat umum. Sementara dalam penelusuran Rakyat Maluku di beberapa toko penjual ATK di Kota Ambon, ternyata penjualan kertas berjenis dov dan bc mengalami perbedaan. Tidak ada penjelasan soal perbedaan harga tersebut.

Misalnya, hampir seluruh toko ATK yang ada di kawasan AY Patty, menjual kertas jenis dov dan bc dengan harga tidak lebih dari Rp25 ribu. Sementara rata-rata toko yang ada di kawasan Kebun Cengkeh, hingga STAIN, menjual kertas jenis bc dan dov dengan harga rata-rata Rp38 ribu. Fatalnya, salah satu toko di kawasan STAIN justru menjual kertas jenis bc maupun dov dengan harga hingga Rp40 ribu per pak.

Menurut para pedagang, penjualan kertas dilakukan sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat. Penjualannya hingga mencapai harga tersebut, karena tidak mudah mendapatkan barang-barang ATK di Kota Ambon, terutama untuk pabriknya. Semua barang ATK, menurut para pedagang, didatangkan dari luar Maluku, yang tentu, berdampak terhadap cos penjualan. Namun demikian mahalnya ATK ini, masyarakat tetap saja keasyikan membelanjakannya.

Selain karena buta dan tidak peduli soal harga, warga selalu berasumsi bahwa harga pasar ditentukan oleh pedagang, sesuai kebutuhan dan keinginan mereka.

“Sebagai konsumen, kita bisa apa. Kalau tidak beli, mau dapat di mana. Di sisi lain, ini menjadi keperluan kita, terutama kita yang sementara kuliah misalnya,” pungkas, Ridwan, salah satu mahasiswa semester akhir di Kota Ambon. Ridwan berharap, persoalan seperti ini menjadi tanggungjawab pemerintah, dan tidak mesti dibiarkan. “Pemerintah harus segera melakukan penertiban. Tindakan paling tegas itu, cabut izin dagang mereka, sehingga menjadi efek jera kepada semuanya,” singkat dia. (WHL)

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top