Bentrok Di Batu Koneng 1 Tewas 1 Luka – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Bentrok Di Batu Koneng 1 Tewas 1 Luka

HIPPMAK Ultimatum Kapolres Tangkap Pelaku

Rakyatmaluku.comBENTROK antar warga terjadi di Dusun Batu Koneng, Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Selasa 11 April 2017 sekira pukul 10.45 WIT, menyebabkan satu warga yang diketahui berinisial (SM) tewas, dan satu lainnya  mengalami luka-luka.

Korban SM sebelum menghebuskan nafas ter­akhirnya, sempat dilarikan ke Rumah Sakti (RS) Bhayangkara, Tantui, untuk mendapatkan pertolongan. Namun diduga akibat mengalami pendarahan, nyawa korban tak terselamatkan.
Informasi yang dihimpun Rakyat Maluku di Tempat Kejadian Perkara (TKP), perkelahian berujung maut, berawal dari sekelompok pemuda, sedang memasang papan dilarang membangun di lahan kosong, yang berada di RT 001/RW 04, Batu Koneng. Saat memasang tanda larangan membangun, datang salah satu pemuda yang sedang mengendarai mobil.

Sang pengemudi mobil yang belum diketahui identitasnya  turun dari mobil dan melarang sekitar 20 warga, agar tidak memasang papan larangan, tapi mereka tidak menghiraukan. “Jadi waktu sopir turun dari mobil, dia sempat adu mulut, tapi warga mengejarnya. Mereka juga mecahkan kaca belakang mobil,” kata salah satu saksi di TKP, kepada Polisi, di TKP.

Kemudian kata saksi tersebut saat sopir membawa mobil lari menyelamatkan diri, muncul korban SM yang mengendarai sepeda motor. SM juga melarang mereka memasang papan larangan membangun, dan SM juga dikejar warga.

“Tadi dia (korban) saya mengira dia berhasil kabur, karena saya melihat dia loncat di sana (menunjuk salah satu lokasi di TKP). Namun ternyata, dia (korban) dipukul pakai batu,” jelas saksi tersebut kepada Polisi
Dikatakan, saat kejadian ada sekitar 20 orang warga menggunakan mobil. Mereka kemudian turun dari mobil, sementara mobil melaju terus menuju Kota Ambon.

“Jadi mereka ini ada sekitar 20 orang lebih dengan mengunakan mobil pick-up. Mereka melakukan pemasangan tanda larangan membangun. Mobil mobil pick-up kemudian menuju Kota Ambon,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Pulau Ambon dan Pp Lease Komisaris Polisi Bachri Hehanussa mengatakan, aparat kepolisian pihaknya setelah mendapat laporan mengenai bentrokan tersebut langsung terjun ke TKP.

“Kami menerima laporan ada kontak fisik antar warga dengan warga yang mengklaim punya tanah yang ada di Batu Koneng. Hingga kemudian ada korban di RS Bhayangkara. Korban kita terima laporan meninggal dunia,” ujar Hehanussa, kepada wartawan di TKP. Dikatakannya bahwa, untuk mengantisipasi meluasnya peristiwa tersebut, Polres Pulau Ambon dan Pp Lease, melibatkan TNI, melakukan pengamanan di beberapa titik dalam wilayah Kota Ambon, yang dianggap rawan.

“Untuk antisipasi kami Polres meminta bantuan dari TNI AD, baik Kodim, Koramil, Yonif 733, kemudian dibantu Dit Sabhra Polda Maluku dan Brimob. Kami mengamankan beberapa titik yang ada di Kota Ambon dalam rangka mengantisipasi meluasnya kasus ini,” tandas Hehanussa.

Dijelaskan bahwa pemicu kejadian ini lantaran sekelompok warga yang mengklaim tanah mereka, melakukan tanda larangan di lahan seluas 23 hektar.
“Infonya ada warga yang datang memasang papan larangan, kemudian ada warga yang melarang dan terjadi kontak fisik. Kami juga sementara melidik para pelaku penganiayaan tersebut,” tegas Hehanussa.

ULTIMATUM
Sementara itu Pengurus Besar Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Kailolo (PB-HIPPMAK) memberikan kesempatan kepada pihak Kepolisian untuk segera menangkap para pelaku yang terlibat dalam aksi bakuhantam di Batu Koneng Desa Poka.

“1 x 24 jam pelaku sudah harus ditangkap, jika tidak kami akan mencari sendiri para pelaku,” ujar Ketua PB-HIPPMAK, Raudy Tuasamu, kepada pers, Selasa 11 April 2017. Pihak Polisi juga diminta untuk segera memeriksa semua pihak yang terlibat dengan persoalan sengketa tanah yang ada Batu Koneng.  Mengingat pemicu adu jotos hingga ada korban jiwa adalah persoalan saling klaim pemilik tanah.

Menurutnya jika ada persoalan perihal status tanah  harusnya dapat ditempuh melalui jalur hu­kum yang ada bukan dengan cara-cara kekerasan mempertahankan kliam tanah tanpa dasar hukum yang jelas.

“Saya minta periksa orang-orang yang mengaku diri pemilik dati itu, semua harus diperiksa, mobil yang dipakai untuk memobilisasi para pelaku harus segera disita,” tegas Tuasamu, yang menambahkan jika mereka bisa gunakan cara-cara kekerasan, pihaknya juga bisa berbuat lebih.

“Selama ini kami percaya dengan pihak kepolisian. namun berkaca dari kasus penem­bakan yang terjadi di Desa Batumerah beberapa waktu lalu sampai sekarang tidak jelas, lalu kami kemudian dijastifikasi masyarakat umum, kami tidak mau lagi demikian, polisi harus segera menangkap para pelaku,” tegas Tuasamu.  (AAN/ARI)

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top