Penahanan Tiga Tersangka Dialihkan Ke Tahanan Kota – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Penahanan Tiga Tersangka Dialihkan Ke Tahanan Kota

Rakyatmaluku.com – PENAHANAN tiga tersangka ko­rupsi pen­yalah­gunaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Kabupaten Seram Bagian (SBB) tahun 2015 senilai Rp 1,9 miliar dialihkan dari Rumah Tahanan Negeri (Ru­tan) Kelas II.A. Ambon di Waiheru ke tahanan Kota Ambon, Senin, 10 April 2017. Tiga tersangka itu yakni, Kepala Badan Pember­dayaan Masyarakat Desa (BPMD), Leonard Silooy, Bendahara BPMD Amelia Hatayane dan mantan Ben­dahara BPMD Meggie Pat­tirane.

Menurut Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari SBB, Jino Talakua, tiga tersangka tersebut dialihkan ke tahanan kota setelah dilakukan proses tahap II di Kantor Kejaksaan Tinggi Maluku. yakni, penyerahan tiga tersangka beserta berang bukti dari Jaksa Penyidik ke Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Setalah dilakukan tahap II hari ini (kemarin), status tiga tersangka langsung dialihkan dari tahanan Rutan ke tahanan kota. Sebab, ketiga tersangka ini tengah mengidap penyakit keras. Tersangka Silooy dan tersangka Amelia sakit jantung. Sedangkan tersangka Meggie sakit asma, sehingga mereka butuh pemeriksaan medis secara rutin,” ucap Talakua, kepada wartawan di Kantor Kejaksaan Tinggi Maluku, Senin 10 April 2017. Ditahap penyidikan ini, lanjut Talakua, ketiga tersangka telah mengembalikan seluruh kerugian keuangan negara sebesar Rp 1,9 miliar kepada Jaksa Penyidik.

“Dalam penanganan kasus ini ditahap penyidikan, ketiga tersangka telah mengembalikan kerugian keuangan negaranya. Sehingga, tidak ada lagi kerugian keuangan negaranya. Dan dalam waktu dekat, berkas ketiga tersangka akan dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan. Sebab, administrasi surat dakwaannya telah lengkap,” terang Talakua.

Dijelaskan, pada tahun anggaran 2015, Kabupaten SBB melalui BPMD memberikan ADD bagi 92 desa se-Kabupaten SBB dengan total anggaran yang dicairkan sebesar Rp 1,9 miliar. Anggaran tersebut untuk pembayaran Gaji bagi 92 kepala desa atau Raja di Kabupaten setempat tahun 2015.

Namun sayangnya, anggaran Rp 1,9 miliar tersebut bukan bersumber dari ADD, melainkan bersumber dari APBD Kabupaten SBB. Sebab, pada saat itu anggaran untuk ADD belum ada. Dengan catatan, ketika ADD telah dicairkan ke rekening masing-masing kepala desa dan raja, maka masing-masing kepala desa maupun raja harus mengembalikan atau menggantikan dana APBD tersebut ke kas daerah.

Dari hasil penyelidikan dan penyidikan, kata Talakua, ternyata sebagian dana tersebut tidak disalurkan ke 43 kepala desa dari total 92 kepala desa di Kabupaten SBB. Terungkap bahwa anggaran untuk 43 kepala desa itu dipakai tersangka Leonard Silooy yang bekerja sama dengan tersangka Amelia Hatayane dan tersangka Meggie Pattirane untuk kepentingan dinasnya.

“Tahun 2015, sebanyak 92 kepala desa maupun raja di Kabupaten SBB masing-masing menerima gaji selama enam bulan sejak Januari – Juni sebesar Rp 3.600.000, dengan gaji per bulannya sebesar Rp 600 ribu. Dan terungkap bahwa sebanyak 43 kepala desa tidak menerima gajinya,” bebernya.

“Sebagian kepala desa maupun raja yang telah menerima gaji itu telah mengganti anggaran APBD ke kas daerah sebesar Rp 1,2 miliar. Sisanya Rp 700 juta belum dikembalikan oleh sebagain kepala desa maupun raja,” imbuhnya Talakua. (RIO)

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top