Sidang Korupsi BTT, Terdakwa Ngaku Stor Rp. 500 Juta Ke Mantan Bupati SBB – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Sidang Korupsi BTT, Terdakwa Ngaku Stor Rp. 500 Juta Ke Mantan Bupati SBB

KETERLIBATAN Mantan Bupati Seram Bagian Barat (SBB) nonaktif Jacobus F. Puttileihalat dalam perkara korupsi dana Belanja Tak Terduga (BTT) di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (PPKAD) Kabupaten SBB, akhirnya terungkap dalam fakta persidangan yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Ambon, Selasa, 4 April 2017, kemarin.

Mantan Kepala Cabang Bank Maluku di Piru Kabupaten SBB, Isac Saleky, yang dihadirkan sebagai saksi oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk terdakwa Ronny Dirk Rumalatu, mengungkapkan, permintaan pencairan anggaran di Kantor Bank Maluku Cabang Piru sebesar Rp 350 juta oleh terdakwa Rumalatu yang saat itu menjabat Kepala Dinas PPKAD Kabupaten SBB atas perintah Bupati SBB Jacobus F. Puttileihalat.

“Seingat saya, pada 6 Maret 2013, terdakwa Rumalatu datang menemui saya di Kantor Bank Maluku Cabang Piru untuk dicairkan uang sebesar Rp 100 juta atas perintah Bupati SBB Jacobus F. Puttileihalat. Ketika terdakwa Rumalatu mengkonfirmasi ke Bupati melalui telpon selulernya, ternyata bukan Rp 100 juta, melainkan permintaan sebesar Rp 350 juta. Hari itu juga langsung dicairkan, dan saya bersama-sama dengan terdakwa mengantarkan uang Rp 350 juta itu ke Bupati Jacobus F. Puttileihalat, yang diterima oleh ajudannya Wody Timisela di daerah Waipirit,” beber saksi Isack Saleky,

Keesokan harinya (7 Maret 2013), lanjut saksi Saleky, terdakwa Rumalatu datang di Kantor Bank Maluku Cabang Piru membawa cek dari Bupati SBB Jacobus F. Puttileihalat sebesar Rp 500 juta, dengan tujuan mengganti uang Rp 350 juta itu.
“Uang di Bank Maluku Cabang Piru yang dipakai Bupati Jacobus F. Puttileihalat sebesar Rp 350 juta itu, keesokan harinya langsung diganti dengan cek berisi Rp 500 juta, yang diantar oleh terdakwa Rumalatu. Setelah dipotong Rp 350 juta dari Rp 500 juta, sisanya Rp 150 juta diserahkan ke terdakwa Rumalatu,” terangnya.

Setelah mendengar keterangan saksi Isach Saleky, Ketua Majelis Hakim R.A. Didi Ismiatun kemudian meminta tanggapan dari terdakwa Rumalatu. Menurut terdakwa Rumalatu, seluruh keterangan saksi Isach Saleky keliru.
“Tidak ada transaksi pencairan di Bank Maluku Cabang Piru pada 6 Maret 2013 sebesar Rp 350 juta. Yang benar itu transaksi dilakukan pada 7 Maret 2013 sebesar Rp 500 juta. Setelah Rp 500 juta dicairkan, kemudian uang tersebut dibawa ke Waipirit untuk diserahkan ke Bupati Puttileihalat. Dan yang menyerahkan langsung uang Rp 500 juta itu adalah saksi Saleky kepada ajudan Bupati Wody Timisela melalui jendela mobil,” bantah terdakwa.

Mendengar keterangan berbeda antara saksi Isack Saleky dan terdakwa Rumalatu, membuat Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Ambon, R.A. Didi Ismiatun, geram. Majelis hakim menilai, keterangan sakai Isach Saleky dalam persidangan banyak kejanggalan.

Sebab, keterangan saksi Isac Saleky berbeda jauh dengan keterangan saksi-saksi lainnya dalam persidangan sebelumnya, serta berbeda dengan keterangan terdakwa Rumalatu.

“Semua saksi dalam persidangan mengaku bahwa terjadi transaksi pencairan anggaran di Bank Maluku pada 7 Maret 2013 sebesar Rp 500 juta. Sedangkan anda (saksi Saleky, red) disini mengaku transaksi pencairan anggaran di Bank Maluku dilakukan pada 6 Maret 2013 sebesar Rp 350 juta. Menurut kami (Hakim), keterangan anda dalam persidangan ini banyak kejanggalan. Dan benar tidaknya keterangan anda (saksi Saleky, red) biar hakim yang menilai,” kesal Ismiatun sambil melototi saksi. (RIO)

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top