Terbakarnya KM Sino 27 Di Halong, Kejati Maluku Harus Bertanggung Jawab – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Terbakarnya KM Sino 27 Di Halong, Kejati Maluku Harus Bertanggung Jawab

TERBAKARNYA KM Sino 27 di kawasan Teluk Ambon, te­patnya di Pantai Halong, Keca­matan Baguala, Kota Ambon, Rabu, 22 Maret 2017, malam, hingga saat ini belum diketahui penyebabnya. Entah sengaja dibakar atau murni kecelakaan hingga menyebabkan terba­kar­nya kapal tersebut. Kapal ti­tipin Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku ke Lantamal IX Ambon itu adalah barang bukti dari kasus ilegal fishing atas terdakwa I Lou Xi Shun dan terdakwa Usman Useng.

Dan hingga berita ini diterbitkan, kasus ilegal fishing dengan barang bukti KM Sino 27 itu belum berkekuatan hukum tetap. Sebab, kasusnya masih ditangani ditingkat Kasasi oleh Mahkama Agung (MA) RI. Menanggapi hal itu, Praktisi Hukum Hendrik Lusikooy, kepada koran ini via selulernya, Kamis, 23 Maret 2017, menegaskan, yang harus bertanggung jawab atas terbakarnya KM Sino 27 itu adalah Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Maluku. Sebab, barang bukti KM Sino itu merupakan titipan JPU Kejati Maluku ke Lantamal IX Ambon. Selain itu, kapal tersebut juga dalam pengawasan Kejati Maluku.

“Dari sisi hukum yang bertanggung jawab adalah Kejati Maluku. Meskipun penyidikannya berada di Penyidik TNI Angkatan Laut, namun tersangka beserta barang bukti kapal tersebut telah diserahkan ke JPU Kejati Maluku saat proses tahap II,” tegasnya.

Menurut Hendrik, walupun perkara telah dilimpahkan ke Pengadilan untuk disidangkan, namun penyitaan barang bukti kapal tersebut masih berada pada tanggung jawab Kejati Maluku. Sebab, dalam proses persidangan, JPU tidak mungkin mengahdirkan barang bukti KM Sino 27 itu.

“Tetap Kejati Maluku yang bertanggung jawab, apapun itu konsekuensinya. Karena di Pengadilan yang dihadirkan hanya barang bukti yang telah di foto untuk pembuktian, akan tetapi fisiknya berada dalam genggam Kejaksaan setelah proses tahap II tadi,” katanya.

Terpisah, Humas Pengadilan Negeri (PN) Ambon, Herry Setiabudi, saat dikonfirmasi koran ini, di ruang kerjanya, mengatakan, perkara ilegal fishing atas terdakwa I Lou Xi Shun dan terdakwa Usman Useng dengan barang bukti KM Sino 27 itu masih berlanjut ke MA yang diajukan oleh kedua terdakwa atas putusan Pengadilan Tinggi (PT) Ambon.
“Setelah divonis oleh PT Ambon, kedua terdakwa langsung melakukan upaya hukum Kasasi. Sehingga, barang buktinya masih dalam proses penyitaan untuk menunggu kepastian hukum kasasi,” jelas Herry. Sebelumnya, kedua terdakwa dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Perikanan pada Pengadilan Negeri Ambon berupa denda sebesar Rp 200 juta tanpa pidana badan. Dan menyatakan barang bukti berupa KM Sino 27 dan alat pukatnya dikembalikan kepada kedua terdakwa.

Tak terima atas putusan Pengadilan Perikanan pada Pengadilan Negeri Ambon itu, JPU kemudian mengajukan upaya hukum Banding ke PT Ambon. Dan oleh PT Ambon, kedua terdakwa dijatuhi hukuman pidana penjara selama dua tahun. Selain itu, kedua terdakwa juga dibebankan membayar denda masing-masing sebesar Rp 1 miliar. Dan menyatakan barang bukti berupa KM Sino 27, dan alat pukat, serta sitaan ikan seberat 104 Ton yang telah diuangkan senilai Rp 616.420.000 dirampas untuk negara.

“Atas putusan pengadilan tingkat pertaman, JPU kemudian Banding ke PT Ambon. Dan oleh PT Ambon keduanya dihukum lebih berat. Tak puas dengan putusan PT Ambon, kedua terdakwa melalui kuasa hukumnya langsung melakukan upaya hukum lanjut Kasasi ke MA,” terangnya. (RIO)

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top