Wattimena Mundur, Tetap Memilih SETIA – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Wattimena Mundur, Tetap Memilih SETIA

Michael Wattimena
  • Assagaff Masih Terlalu Kuat Di Pilgub Maluku

SALAH satu nama yang disebut-sebut berpeluang mendam­pingi Said Assagaff pada Pemilihan gubernur Malu­ku periode 2018-2022 adalah Michael Wattimena.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) asal Papua berdarah Ambon itu digadang-gadang sudah melakukan pendekatan personal dengan Said Assagaff. Bahkan untuk mendongkrak popu­laritasnya, banyak orang entah kelompok, maupun individu secara sukarela telah mensosialisasikan politisi asal Partai Demokrat itu dalam beragam saluran media.

Sayangnya kepada wartawan, Michael Wattimena membantah isu yang menyebutkan dirinya akan mencalonkan diri sebagai w0akil gubernur Maluku. “Dalam rangka menyikapi wacana yang akhir-akhir ini berkembang, baik itu di tengah kelompok masyarakat maupun partai politik dalam Pemilukada Juni 2018 mendatang maka melalui kesempatan ini saya sampaikan biarlah saya berkonsentrasi di Papua Barat,” kata Wattimena, kepada wartawan, tadi malam.

Michael Wattimena mengatakan, komitmennya untuk membangun Maluku sama sekali tidak luntur walaupun berada di negeri orang. Dan, dimanapun dia berada dia akan selalu memberikan atensi yang kontributif bagi pembangunan Maluku.

“Dimanapun kita ditempatkan, atensi kontributif bisa saja kita berikan kepada Maluku, yang adalah tanah kelahiran beta. Tidak mesti bersama-sama dengan masyarakat Maluku,” tegas Wattimena.
Ketua Umum Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia itu juga menekankan sikap politiknya di pemilihan gubernur Maluku akan tetap mendukung pasangan Said Assagaff-Zeth Sahuburua yang dikenal dengan akronim SETIA.

“Silahkan kader internal Demokrat maupun ekstral Demokrat berkompetisi mendapatkan rekomendasi Partai Demokrat, tetapi saya akan ada di garda terdepan memperjuangkan rekomendasi Partai Demokrat kepada pasangan kepala daerah ini (Pak Said dan Pak Etty),” tegasnya.

Alasan keberpihakan politik kepada Assagaf-Sahuburua mengingat, selama kepemimpinan pasangan yang disebut SETIA telah membawa perubahan yang cukup signifikan bagi pembangunan Maluku. Kepemimpinan kedua elit Golkar itu juga patut diteladani. “Jarang kita dapatkan politisi atau kepala daerah dan wakil kepala daerah yang solid, setia, dan juga santun seperti Pak Said dan Pak Ety,” kagumnya.

Menurutnya, kedua figur tersebut harus melanjutkan segala program kerjanya, empat tahun berproses rasanya sangat singkat bagi gubernur dan wakil gubernur Maluku bisa menyelesaikan segala program kerja mereka.
“Sesuai undang-undang, gubernur-wakil gubernur Maluku sekarang hanya bisa bertahan sampai tahun ke empat, saya rasa periode selanjutnya harus kita dukung lagi, selama ini juga publik cukup puas dengan kinerja keduanya, tidak ada resistensi di masyarakat juga kan,” tandas Wattimena.

TERLALU KUAT
Sementara itu, sugesti politik calon petahana masih begitu berpengaruh pada psikologi masyarakat. Hampir secara umum, calon incumbent di semua momentum politik, terutama pilkada diaras lokal, masih dianggap paling kuat dan dapat mendominasi suara dibandingkan rival politik. Hal ini didasarkan pada beberapa indikator salah satunya memiliki supra-struktur.

“Saya kira kesimpulan pada umumnya bahwa incumbent masih dinilai kuat. Indikatornya incumbent memiliki struktur, kemudian memiliki jaringan politik yang kuat, apalagi jika bicara pada konteks Pilgub, incumbent sebagai pimpinan Partai Golkar memiliki peluang besar untuk kembali menang,” kata Direktur Lembaga Research Consulting and Marketing (RESCO), M Jais Patty kepada Rakyat Maluku saat diminati analisisnya terkait peluang dan elektabilitas incunbent di Pilkada Maluku, tadi malam.

Jais menuturkan, sebagai pimpinan Partai Golkar yang baru saja memenangkan Pilkada serentak seperti di Kota Ambon, Kabupaten Buru, dan Kabupaten Maluku Tengah, tentunya Said Assagaff harus diperhi­tungkan sebagai kompetitor yang memiliki segalanya.

“Itu artinya untuk sementara ini kita katakan incumbent cukup kuat. Saya kira itu kesimpulan pada umumnya, bahwa incumbent masih dinilai kuat. Indikatornya incumbent memiliki struktur, lalu sebagai pimpinan Partai Golkar yang baru saja memenangkan Pilkada serentak, seperti di Kota Ambon, Buru, dan Maluku Tengah,” tuturnya.

Disinggung persoalan persepsi publik yang sementara berkembang menyangkut dengan akselerasi kebijakan pembangunan daerah dalam kurun lima tahun kepemimpinan Assagaff, Jais menuturkan, penilian publik atas isu pembangunan sangat mempengaruhi.

“Soal isu pembangunan tentunya publik Maluku memiliki penilaian sendiri. Kalau dinilai buruk tentunya akan linier dengan elektabilitas sebagai incumbent,” ucapnya.

Selain itu, Jais juga mengatakan, posisi bakal calon wakil gubernur pendamping petahana juga sangat strategis. Pasalnya, jika wakilnya yang dipilih juga populis, tentunya akan sangat membantu meningkatkan elektabilatas pasangan calon ke depan. “Untuk mendongkrak elektabilitas tentunya membutuhkan bakal calon wakil yang juga populis. Itu sangat penting,” paparnya.

Soal kuat dan tidak ke depan, lanjut Jais, setidaknya butuh memori yang kuat terkait dengan idiom dalam politik. Dan dipastikan bahwa kondisi politik dapat berubah kapan saja. Untuk itu kita tunggu saja peta politik ke depan seperti apa.

“Soal kuat dan tidak kedepan, ketika juga harus ingat idiom politik di Maluku.Dinamika politik senan­tiasa berubah, olehnya itu kita tunggu saja peta politik kedepan seperti apa,” terangnya. (ARI/ASI)

 

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top