Sang Penunggang Angin Pegas Oleh Dahlan Iskan – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Sang Penunggang Angin Pegas Oleh Dahlan Iskan

SELASA, 14 Feb 2017. Semua orang tua boleh bangga, boleh kagum, boleh bersyukur, dan boleh saja iri pada businessman sukses yang satu ini: Rianto Nurhadi. Terlahir: Njoo Oeng Liong.

Berita Terkait Ini Rahasia di Balik Gurihnya Lontong Cap Go Meh

Usianya, di tahun 2017 ini, mencapai 88 tahun. Tiap hari masih bisa ke kantor perusahaannya. Badannya masih sehat. Dengan tinggi 170 cm dan berat badan terjaga di 73 kg, dia masih terlihat gagah. Pikirannya pun masih jernih. Dan, jangan lupa, suara nyanyinya masih merdu.

Begitu juga istrinya: Indrawati. Terlahir: Tjan Kiet Woen. Usianya, tahun 2017 ini, 80 tahun. Badannya sangat sehat. Wajahnya cerah. Masih terlihat cantik sehingga bisa dibayangkan saat mudanya dulu.

Rambutnya dipotong sangat pendek. Menambah kesan kelincahannya. Otaknya cerdas dan berputar terus. Bicaranya tegas dan fokus.Pendengarannya sempurna. Tiap hari masih jaga toko onderdil mobilnya di Jalan Dupak, Surabaya. Dari jam 8.30 sampai jam 17.00. Enam hari seminggu. Saya bandingkan dengan foto yang digantung di dinding rumahnya. Saat dia masih muda. Gaya rambutnya masih sama. Bahkan masih sama dengan saat dia masih main basket di masa remajanya.

Perkawinan mereka, tahun 2017 ini, genap 60 tahun. Pantas kalau dirayakan secara khusus. Tidak banyak pasangan yang bisa mencapai usia perkawinan sepanjang dan sesukses itu.

Maka tahun 2017 ini akan tercatat sebagai tahun istimewa bagi Rianto Nurhadi dan istri tercintanya. Setidaknya ada tiga peristiwa penting di tahun 2017 ini.

Pertama, dia sudah selesai mewariskan semua hartanya kepada lima anaknya. Beres. Semuanya. Tuntas. Tidak satu persen pun dia sisakan untuk dirinya atau istrinya. Dia merasa lega tahun ini. Dia merasa terbebas dari pikiran tentang hartanya. Momentum tax amnesty dia manfaatkan untuk membereskan waris-mewaris itu. Tahun 2017 ini, Rianto Nurhadi merasa hidup baru lagi. Hidup baru yang benar-benar baru. Tanpa saham di begitu banyak perusahaan.

Kedua, dia bisa melihat anak-anaknya rukun. Sejak dulu anak-anak itu memang rukun. Tapi kan belum diuji oleh ujian yang tersulit. Yakni saat terjadi pembagian waris. Tapi ujian itu kini sudah berhasil dilewati. Lulus. Cum laude.

Ujian kerukunan yang biasanya berpuncak pada soal harta warisan berhasil dilewati dengan sukses. Lima anaknya tunduk 100 persen apa pun yang diputuskan orang tua mereka. Bukan main leganya. Hidupnya seperti terbebas dari beban sebagai orang tua. Dia begitu bangga pada kerukunan anak-anaknya itu.

Ketiga, tahun 2017 ini, dia lega karena bisa memulai belajar menyanyi lagu-lagu Italia.Umur 88 tahun dia tandai dengan memulai sesuatu yang baru: mendatangkan pelatih vokal untuk lagu yang seratus persen seriosa.

Selama ini kemampuan menyanyinya sudah teruji di panggung-panggung pesta dan di ruang-ruang karaoke. Tapi minat utamanya sebenarnya seriosa. Hanya selama ini baru pada tingkat diseriosa-seriosakan. Belum seriosa yang didasari latihan yang benar. Dendam akan seriosa itu akan dia kesumatkan di hari tuanya ini.Benar-benar hidup Rianto membuat ’’iri’’. Iri dalam pengertian positif.

Saya beruntung bisa makan lontong cap gomeh di rumahnya yang asri di lapangan golf Bukit Darmo. Istimewa. Makan lontong cap gomeh tepat di hari raya cap gomeh tahun 2017. Saya makan banyak. Rianto juga makan banyak. Istrinya juga makan banyak. Enak sekali. Sambil ngobrol tentang apa saja dalam perjalanan hidup ini.

Meski rumah ini besar sekali, tapi menatanya amat simpel. Tidak dibuat mewah. Tidak ada perabot yang wah yang memenuhi ruangan. Rumah itu nyaman untuk dihuni.

Ruang menyanyinya ada di lantai atas. Bersebelahan dengan teras yang menghadap lapangan golf. Di ruang itulah dia belajar menyanyi lagu Italia tiap Selasa dan Jumat.

Tiap hari Minggu, di rumah inilah lima anaknya, lima menantunya, 12 cucunya, dan dua cicitnya berkumpul. Makan-makan bersama. Bercengkerama. Bercanda.

Bicara kerukunan dalam keluarga, Rianto Nurhadi harus jadi percontohan nasional. Padahal Rianto adalah keluarga besar. Dia anak kedua dari 11 bersaudara. Tapi semuanya rukun. Sampai hari ini. Hebatnya, dari 11 bersaudara itu baru satu yang meninggal. Itu pun belum lama ini.

Keluarga ini kelihatannya memang keluarga dengan gen umur panjang. Ibu yang melahirkan Rianto baru meninggal di usia 104 tahun. Ibu yang melahirkan istrinya juga baru meninggal di usia lebih 100 tahun.

Dari 11 bersaudara Rianto itu tidak ada yang bukan pengusaha. Bahkan yang tiga orang tergolong pengusaha konglomerat tingkat nasional. Termasuk Rianto sendiri dengan grup PT Indospring-nya. Rianto tidak mau menilai mana yang terbesar di antara tiga itu. Dia hanya bilang dengan nada yang amat merendah: yaaah seimbang lah.

Bagi saya, Rianto bukan hanya pengusaha besar. Yang juga saya kagumi adalah: dia pengusaha perintis! Dia bukan tergolong pengusaha ikut-ikutan. Bukan pengusaha ubyak-ubyuk. Bukan pengusaha yang merebut lahan orang lain. Bukan pengusaha yang menyaingi usaha yang lagi sukses.

Rianto adalah pengusaha yang merintis sejak babat alas. Sejak belum ada orang memasuki bisnis pegas/per mobil. Sejak bangsa ini masih dianggap bangsa yang belum akan mampu membuat pegas mobil. Sejak bangsa ini baru dianggap mampunya bercocok tanam.

Rianto mampu membaca angin. Membaca datangnya angin. Membaca ke arah mana angin bertiup. Bahkan Rianto mampu menunggangi angin itu!

Angin yang akan datang saat itu adalah: pembangunan ekonomi. Angin yang akan ditinggalkan adalah politik. Perpindahan angin dari arah politik ke arah ekonomi inilah yang dibaca Rianto. Pembangunan ekonomi memerlukan alat angkut yang cepat. Itu berarti mobil. Mobil akan membanjir. Mobil perlu onderdil. Onderdil yang diincar Rianto adalah pegas alias per. Baik per jenis daun maupun per jenis ulir.

Mobil kian banyak. Kian membanjir. Kian memadati jalan. Keperluan pernya naik terus. Rianto dengan Indospring-nya terus mampu memenuhi kebutuhan itu. Jumlahnya maupun kualitasnya.Kini dan sejak dulu, sejak awalnya, Indospring menjadi produsen per terbesar di Indonesia. Sepanjang sejarahnya.

Tentu tidak ada yang kebetulan. Pilihan bisnis pegas itu bukan datang begitu saja. Bukan pilihan yang dikasih oleh orang. Rianto tidak akan bisa menunggang angin pegas itu kalau tidak kenal dunia pegas sama sekali. Rianto tidak sekadar kenal pegas. Dia mengenalnya dengan baik. Lahirnya. Dan batinnya. Rianto pernah dibuat senang oleh pegas. Rianto pernah dibuat jengkel oleh pegas. Pernah dibuat putus asa oleh pegas. Pernah dibuat rugi oleh pegas. Komplet.

Kapan itu terjadi? Itu terjadi saat Rianto masih remaja. Saat dia memutuskan berhenti sekolah. Saat dia baru kelas 2 SMP Tionghoa di kota kelahirannya di Malang.

Logika berpikirnya istimewa sejak SMP. Sama-sama tidak akan bisa melanjutkan sekolah ke SMA, untuk apa menamatkan SMP? Maka dia putuskan berhenti di kelas 2 SMP. Bekal untuk tulis-menulis cukup. Bekal untuk membaca cukup. Lebih baik bisa segera bekerja. Membantu kakak sulungnya. Ikut mengatasi ekonomi orang tuanya yang terpaksa menutup tokonya di pinggiran Kota Malang.

Waktu itu, pertengahan tahun 1940-an, belum ada SMA Tionghoa di Malang. Kalau mau melanjutkan ke SMA harus pergi ke Tiongkok. Dia tidak mau. Dia benar-benar jatuh cinta di Jawa.

Meski sekolah Tionghoa, Rianto remaja suka menyanyikan lagu-lagu Jawa. Terutama lagu dolanan. Dia sering mengikuti anak-anak ngamen yang lagi keliling Kota Malang. Kadang mulai Jalan Jagalan sampai alun-alun. Sambil ikut menyanyikan lagu yang dinyanyikan pengamen. Misalnya lagu ini yang dia tidak akan lupa sampai tua hidupnya kelak: onde-onde isi kacang, rambute konde sikile pincang.Lalu, di hari raya cap gomeh itu, dinyanyikannya lagi dengan suaranya yang soprano di depan saya. Lalu tertawa riuh. Disertai tawa istrinya (*/bersambung)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top