Tingginya Angka Pengangguran Dari Pabrik Batu Gong – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Tingginya Angka Pengangguran Dari Pabrik Batu Gong

Ilustrusi

Rupanya tingkat pengangguran semakin tinggi bukan diakibatkan lapangan pekerjaan yang tidak memadai, akan tetapi tidak beroperasinya Perusahaan Batu Gong.  Sudah begitu, pemerintah hanya diam dan menutup mata. Padahal, dampaknya sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Data yang dihimpun koran ini, dua pe­rusahaan triplex di Batu Gong masing-masing PT. Jati Dharma Indah Plywood Industries dan PT. Jati Cahaya Cemerlang ini menyerap ribuan tenaga kerja lokal. Aktivitas perusahaan ini dimulai sejak tahun 70-an. Begitu banyak tenaga kerja lokal dipekerjakan. Progres perusahaan ini meningkat. Hanya saja, di tahun 2000-an perusahaan ini dinyatakan pailit alias bangkrut.

PT. Jati Cahaya Cemerlang berhenti beroperasi sejak tahun 90-an. Para pekerja yang semula dipekerjakan di perusahaan ini sekira 6 ribu lebih. Pailitnya perusahaan ini mengakibatkan tenaga kerja berkurang dari 6 ribu lebih menjadi 3 ribu. Perusahaan terus berupaya untuk keluar dari masalah yang dihadapi. Namun nasib berkata lain, di tahun 2000-an, tenaga kerja terus berkurang menjadi 1.048 orang.

Bangkrutnya perusahaan ini dikarenakan perusahaan alat berat Kubota King di Manado mempunyai tagihan di PT. Jati Cahaya Cemerlang. Selain belum melunasi hutang di Kubota King, perusahaan ini juga mempunyai hutang yang belum terbayarkan di luar. Gugatan muncul dan tepatnya di PTN Makasar PT. Jati Cahaya Cemerlang memenangkan gugatan. Pemilik Kubota King kemudian melakukan upaya hukum lanjutan yaitu kasasi di Mahkamah Agung (MA). Alhasil, Kubota King yang memenangkan sengketa itu. Dari situ, maka keluarlah putusan pailit.

Saat putusan pailit ini keluar hutang karyawan yang tersisa 22 bulan gaji belum terbayarkan oleh PT. Jati Cahaya Cemerlang. Saat yang bersaamaan delegasi karyawan mengikuti sidang pra kreditur yang berlangsung di Makasar. Sidang itu terakhir voting untuk menerima tawaran damai (homologasi) untuk menghadirkan investor PT. Kreasi Mandiri yang pemiliknya bernama Richard Liemena alias Cuna.

Kesimpulannya siapapun yang menang perkara itu hak karyawan yang harus diutamakan. Faktanya, upah 1.048 karyawan yang baru diselesaikan 6 bulan dari 22 bulan hutang karyawan. 16 bulan sisa belum dilunasi. Akhirnya gugatan dibuat oleh para karyawan di MA, dan pada tahun 2011 putusan menyatakan karyawan kalah. Pasca kekalahan nasib karyawan tidak lagi dipedulikan. Akibatnya, para karyawan berhenti bekerja. Terkait hal tersebut, Ketua KSBSI Maluku Kelson Haurissa meminta untuk masalah ini secepatnya diselesaikan.
“Kalau tidak salah persoalan ini sudah pernah disampaikan sejak 2004 lalu, tapi sampai saat ini belum ada etiked baik dari pemrintah,” ungkapnya.

Kata dia, ini persoalan serius yang mesti disikapi dengan baik. Sebab, perusahaan yang beroperasi di Batu Gong itu menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit. Kalau perusahaan ini sudah pailit, maka angka pengangguran semakin meningkat.

“Tingkat pengangguran ini semakin bertambah bukan karena lapangan pekerjaan yang tidak memadai, tapi salah satu faktor ialah tidak beroperasinya perusahaan Batu Gong,” tuturnya.

Bagaimana mau bicara soal pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya kalau persoalan ini saja belum diselesaikan? Untuk itu, dirinya meminta peran serta stakeholders terkait guna menjawab tuntutan para pekerja yang dinyatakan PHK oleh perusahaan Batu Gong. Meski begitu, dia menambahkan jikalau perusahaan ini sudah tidak lagi beroperasi ada baiknya lokasi dari perusahaan ini bisa digunakan untuk keperluan lain. Misalnya penampungan barang berupa peti temas atau lainnya agar supaya bisa menyerap tenaga kerja yang dulunya bekerja disitu.
“Iya, kan daripada lokasinya tidak digunakan. Bagaimana kalau lokasi itu dipakai untuk hal lain yang berdampak bagi kepada masyarakat. Artinya kalau lokasi digunakan untuk juga menyerap tenaga kerja kenapa tidak kita gunakan lokasi itu. Coba kita berpikir logis. Bisa kan,” sarannya. (UPU)

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top