Bentrok Di Malra, Puluhan Warga Luka-Luka – Rakyat Maluku
BERITA UTAMA

Bentrok Di Malra, Puluhan Warga Luka-Luka

Ilustrasi

WARGA Desa Larat dan Desa Wou Kecamatan Elat Kabupaten Malu­ku Tenggara, terlibat bentrok menga­kibatkan 12 warga mengalami luka warga Desa Elat 7 orang, 3 orang luka berat 4 orang luka lecet Dari Desa Waur 5 orang luka berat, 3 orang luka ringan.

Korban yang mengalami lu­ka-luka serius harus menjalani pe­rawatan medis di Rumah Sakit (RS) Sadsuitubun Langgur setelah terkena busur panah dan juga luka akibat benda tumpul.

Peristiwa saling serang itu terjadi Sabtu 7 Januari 2017, awalnya dimulai perkelahian antar beberapa pemuda dari kedua desa yang sudah terkontaminasi minuman keras. Tapi kemudian membesar melibatkan warga dari ke dua desa yang selama ini hidup rukun dan damai.

Kapolres Maluku Tenggara Ajun Komisaris Polisi (AKP) Agus yang dikonfirmasi menyatakan peristiwa tersebut sudah diredakan pihak berwajib.

“Itu hanya letupan kecil saja dan sudah kondusif, kita sedang upayakan perdamaian secara adat yang dipasilitasi raja adat kedua desa yang berkedudukan di Yamtel,” beber Kapolres.

Kapolres merincikan, sebelum terjadinya saling serang di perbatasan ujung Desa Elat Sabtu 7 Januari 2017 pukul 15.00 WIT, pada Kamis 5 Januari 2017 beberapa pemuda dari Desa Waur mabuk di Pelabuhan Elat kemudian ditegur pemuda Elat.

“Tidak terima pada Jumat 6 Januari 2017 mereka yang mabuk itu kembali membuat ulah dan memasang sasi disekitar Pelabuhan Elat,” ungkap Kapolres.

Tidak berhenti disitu, pada Sabtu 7 Januari 2017, sekitar pukul 15.00 WIT masa dari Waur berjumlah sekitar 200 orang datang dan menyerang di Desa Elat namun tertahan di perbatasan.

Pihak personil TNI/Polri yang terdiri dari unsur Polsek dan Koramil berupaya melakukan penghadangan dan membubarkan penyerangan tetapi keterbatasan personil membuat ada warga dari kedua belah pihak yang menjadi korban panah.

Pada pukul 19.15 WIT kata Kapolres dirinya memimpin Dalmas Polres dibackup Kodim setempat, unsur Kesbangpol menyebrang ke Tempat Kejadian Perkara, lalu mengevakuasi seluruh korban ke Langgur dengan menggunakan KPL Buntuk, para korban Desa Elat dirawat di RS Sadsuitubun dan korban Desa Waur di rawat di RS Hati Kudus Langgur.

Menurut Kapolres Minggu 8 Januari 2017, luka para para korban dari kedua belah pihak berhasil dioperasi tim medis. Di waktu itu juga Kapolres, Dandim 1503, Kesbangpol, Camat Kei Besar, Kapoles Kei Besar dan Danramil Kei Besar melakukan mediasi perdamaian bertempat di Balai Desa Waur yang dihadari Pastur, dewan Adat Raja Adat dan tokoh pemuda, tokoh masyarakat serta warga Desa Waur.

Sejam kemudian, rombongan menuju Desa Elat untuk mediasi perdamaian yang dihadiri keterwakilan MUI, ketua adat, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat, serta warga Elat .

“Dari hasil pertemuan tersebut, akan ditindaklanjuti perdamaian abadi difasilitasi oleh Kesbangpol, Kapolres, Dandim. Mengenai waktunya akan ditentukan harinya bersama raja adat Meuwit yang berkedudukan di Yamtel,” tandas Kapolres.

Menanggapi peristiwa bentrokan ini salalah satu tokoh masyarakat Maluku Tenggara, Salamun Yunus Yusran himbau untuk semua pihak menahan diri, jangan terprovokasi dengan isu-isu sesat yang dapat memecah belah hubungn persaudaraan

Menurut Salamun, ada yang sengaja berperan untuk memprovokasi emosi warga sehingga memicu tindakan saling serang, target mereka adalah untuk mengganggu perjuangan para tokoh dari Kei Besar yang sedang berupaya memekarkan Kei Besar menjadi kabupaten baru di wilayah Maluku Tenggara.

“Sangat disayangkan adanya perkelahian sampai terjadi perang fisik dan perang menggunakan senjata yang bisa menimbulkan korban luka, ada korban yang harus di opname di RS. Kita tau bersama bahwa Kei Besar sedang diperjuangkan untuk menjadi Daerah Otonomi Baru, dan kalau ada peristiwa ini maka upaya untuk mencapai impian kita bersama akan terganggu,” kata Salamun.

Salamun yang juga Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PW NU) Provinsi Maluku mengajak pihak aparat penegak hukum agar secara arif dan bijaksana menyelesaikan persoalan yang ada, sehingga dikemudian hari tidak ada riak-riak kecil yang bisa memicu ketegangan antara warga di Kecamatan Elat. Pihak TNI-Polri juga harus mewaspadai peredaran minuman keras di wilayah hukum Kei Besar yang dilarang agama dan juga peraturan pemerintah. Apalagi dampak konsumsi minuman keras sering memicu perkelahian antar pemuda.

“Kami minta hilangkan pola pikir premanisme dan konsumsi alkohol yang bisa mengganggu suasana harmonis antar orang basudara di Maluku Tenggara,” pinta Salamun yang juga ketua Gerakan Pemuda Islam (GPI) Maluku.
Pada kesempatan tersebut, Salamun ikut meminta pihak aparatur kecamatan agar segera menerbitkan sertifikat tanah bagi warga Elat yang sudah mendiami kawasan tersebut sejak ratusan silam.

Jika permintaan ini tidak diindahkan maka secara resmi masalah ini akan dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten dan juga pemerintah provinsi Maluku.

“Sangat disayangkan juga, sampai sekarang warga Kei Besar Elat yang sudah bermukim di sana ratusan tahun belum memiliki sertifikat tanah, kami minta sertifikat ini segera di berikan jika tidak kami akan mengadukannya kepada pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi,” tegas Salamun. (ARI)

Click to comment

Most Popular

CONTOH IKLAN
To Top